Rupiah Tersendat, Berakhir di Rp16.780 per Dolar AS
Perdagangan Rabu (7/1/2026) tak membawa angin baik untuk rupiah. Mata uang kita ditutup melemah, terpangkas 22 poin atau 0,13 persen ke level Rp16.780 per dolar AS. Pelemahan ini, meski tak drastis, cukup mengusik.
Lalu, apa penyebabnya? Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyoroti sederet sentimen, baik dari luar maupun dalam negeri, yang membebani rupiah hari ini.
Dari luar, sinyal dari The Federal Reserve AS justru membingungkan. Gubernur Fed Stephen Miran bilang aktivitas bisnis AS solid, jadi suku bunga perlu diturunkan. Tapi, pendapatnya ini ditepis oleh Presiden Fed Richmond Thomas Barkin. Menurut Barkin, suku bunga saat ini sudah netral tidak mendorong, juga tidak mengerem ekonomi.
“Investor mengamati data penggajian non-pertanian untuk Desember, yang akan dirilis Jumat, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang suku bunga. Kekuatan pasar tenaga kerja merupakan pertimbangan utama bagi Federal Reserve dalam mengubah suku bunga,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Nah, pasar pun menunggu. Alat CME FedWatch menunjukkan sekitar 82% peluang suku bunga AS bakal bertahan di pertemuan 27-28 Januari nanti. Namun begitu, ekspektasi potensi dua kali pemotongan suku bunga tahun ini, ditambah ketegangan geopolitik yang belum reda, masih jadi pendorong utama harga emas yang bertahan di area rekor tinggi.
Artikel Terkait
Dari Teras Rumah Hingga Naik Kelas: Kisah AO PNM yang Mengubah Rasa Takut Jadi Kepercayaan
OJK Pacu Digitalisasi BPR dengan Aturan Baru, Perlindungan Nasabah Jadi Prioritas
IHSG Gagal Pertahankan 9.000, Saham Tambang Jadi Penghambat
Soechi Lines Bentuk Lima Anak Usaha, Bidik Pasar Maritim Global