Laporan terpisah dari New York Times menyebut, AS mendesak RodrÃguez untuk mengusir bukan hanya diplomat biasa. Mereka ingin mata-mata dan personel militer dari keempat negara itu keluar dari Venezuela, meski beberapa diplomat sipil mungkin masih diizinkan tinggal.
Di sisi lain, pejabat senior AS berulang kali menyatakan mereka tak punya niat menduduki Venezuela. Namun begitu, pernyataan Trump sendiri justru berbeda nada. Presiden AS itu terus menegaskan keinginannya untuk memainkan peran kunci dalam mengarahkan masa depan negara Amerika Selatan itu. Dan masa depan itu, tampaknya, akan banyak dibiayai dari minyak.
Rencananya, pemerintah AS bahkan akan bertemu dengan sejumlah perusahaan minyak dalam pekan depan. Topiknya: investasi di Venezuela. Malam sebelumnya, Trump mengklaim Venezuela bersedia menyerahkan minyaknya hingga 50 juta barel untuk diambil alih AS.
Pengiriman akan dilakukan bertahap. Nilainya? Lebih dari USD 2,8 miliar jika merujuk harga acuan West Texas Intermediate saat ini. Trump menegaskan, minyak itu akan dijual dengan harga pasar. Hasil penjualannya, katanya, akan dimanfaatkan untuk kepentingan kedua belah pihak.
Artikel Terkait
INET (Sinergi Inti Andalan Prima) Ekspansi ke Bisnis Perdagangan Peralatan Telekomunikasi
IHSG Naik 6,14%, Saham TRUK Melonjak Lebih dari 100%
Harga CPO Anjlok 6% dalam Seminggu, Pasar Khawatir Produksi Musiman Kalahkan Permintaan
Zyrex Dapat Kredit Rp178,8 Miliar dari Bank Permata untuk Ekspansi