Huntara Aceh Tamiang Capai 75 Persen, Siap Huni 336 Warga Terdampak

- Selasa, 06 Januari 2026 | 19:42 WIB
Huntara Aceh Tamiang Capai 75 Persen, Siap Huni 336 Warga Terdampak

Progres pembangunan hunian sementara atau huntara di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, sudah melesat hingga 75 persen. Kabar ini datang dari Kementerian Pekerjaan Umum. Targetnya, seluruh pekerjaan harus tuntas pada 10 Januari nanti.

Lokasinya ada di Gampong Bundar. Rencananya, di sana akan berdiri tujuh blok bangunan modular. Nah, satu bloknya itu bisa menampung 12 kepala keluarga, atau sekitar 48 orang.

Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan komitmennya lewat keterangan tertulis yang dirilis Selasa (16/1).

"Kami berkomitmen untuk men-support penuh BNPB. Huntara ini dibangun agar masyarakat terdampak dapat segera tinggal di tempat yang lebih layak, aman, dan bermartabat," ujarnya.

Dia menambahkan, selain hunian, kawasan ini juga akan dilengkapi dengan sarana air bersih dan sanitasi.

Kalau dihitung-hitung, dengan tujuh blok tadi, kapasitas tampungnya jadi cukup besar: 84 KK atau setara 336 orang. Fasilitas pendukungnya juga disiapkan. Mulai dari toilet umum, instalasi listrik dan pencahayaan, sampai jaringan air bersih dan sanitasi. Intinya, kebutuhan dasar warga yang nanti menempati huntara diusahakan bisa terpenuhi dengan baik.

Soal konstruksinya, huntara ini dibangun dengan sistem modular pakai rangka baja ringan. Metode ini dipilih biar kuat dan prosesnya cepat. Tapi, kenyamanan penghuni tetap jadi perhatian utama, lho.

Pengerjaannya sendiri mencakup banyak tahap. Mulai dari bikin pondasi, pasang rangka modular, dinding dan atap baja ringan, sampai urusan mekanikal, elektrikal, dan plumbing atau MEP.

Untuk sementara ini, dari tujuh blok utama yang ada, satu blok masih dipakai sebagai gudang penyimpanan material. Sisa pekerjaan masih berlangsung, tapi target penyelesaiannya sudah di depan mata.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar