Dalam sebuah pengumuman resmi, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia telah berhasil mencapai swasembada beras. Pernyataan ini disampaikannya pada acara Taklimat Awal Tahun 2026. Menariknya, tahun 2025 disebut sebagai tahun pertama di mana negeri ini sama sekali tidak melakukan impor beras.
“Alhamdulillah, Desember 31 tahun 2025, 24.00, bisa kita dengan resmi mengatakan, di tahun 2025, Republik Indonesia swasembada beras,” ujar Prabowo.
Pencapaian ini, menurutnya, bukan tanpa alasan. Situasi global ternyata ikut mendorong. Dunia sedang tidak stabil banyak konflik terjadi, termasuk di antara negara-negara yang selama ini jadi pemasok utama beras Indonesia.
Dia lantas memberi contoh. “Sumber impor beras kita tadinya adalah Thailand, dan Kamboja, dan Vietnam. Sekarang, Thailand sama Kamboja perang terus. Setelah perang, negosiasi, gencatan senjata, damai, meletus lagi, meletus lagi. Dalam keadaan seperti itu, bayangkan. Amankah kita tergantung impor dari negara yang konflik?”
Memang, persoalan ketergantungan impor ini sudah lama jadi momok. Kita masih ingat kesulitan yang muncul saat pandemi COVID-19 melanda. Saat itu, negara-negara produsen memilih menahan stok untuk kebutuhan dalam negerinya sendiri. Uang banyak pun tak berarti jika tak ada yang mau jual.
Bagi Prabowo, swasembada pangan khususnya beras adalah syarat mutlak bagi kemerdekaan sebuah bangsa. Di Indonesia yang menjadikan nasi sebagai makanan pokok, tentu saja beras menjadi prioritas utama. Namun begitu, fokus tidak boleh berhenti di situ.
Target selanjutnya adalah komoditas pangan lain. Sebut saja jagung dan singkong. Bahkan, setelah karbohidrat terpenuhi, giliran swasembada protein yang harus dikejar.
“Jadi pangan dan energi harus kita mandiri. Harus kita mandiri,” tegasnya.
“Alhamdulillah target yang saya berikan kepada tim, tim pangan kita, saya berikan target waktu awal pemerintahan yang saya pimpin adalah 4 tahun untuk sebuah sumber makanan,” tambah Prabowo.
Di sisi lain, pemerintah kini merasa punya posisi tawar yang lebih kuat. Klaimnya, cadangan beras di gudang Bulog saat ini adalah yang tertinggi sepanjang sejarah. Angkanya mencapai 3,24 juta ton di akhir 2025 jauh melampaui era Presiden Soeharto yang ‘hanya’ menyimpan 2 juta ton.
“Hari ini cadangan beras kita di gudang pemerintah lebih dari 3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Ini saya kira adalah akibat kerja keras semua unsur,” jelas Prabowo.
Pencapaian swasembada ini tentu menjadi kabar baik. Tapi, tantangan ke depan masih panjang. Apalagi jika melihat target swasembada pangan yang lebih luas. Semua mata kini tertuju pada realisasi di lapangan, bukan sekadar angka di gudang.
Artikel Terkait
BLUE Konfirmasi Akuisisi 80% Saham oleh Perusahaan Tambang Hong Kong
ASLC Bidik Pertumbuhan Dua Digit dengan Andalkan Mobil Bekas Jelang Mudik 2026
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil