Gelombang Pasokan Minyak Timur Tengah Tumpahkan Harga ke Titik Terendah

- Selasa, 06 Januari 2026 | 14:24 WIB
Gelombang Pasokan Minyak Timur Tengah Tumpahkan Harga ke Titik Terendah

Pasar minyak mentah Timur Tengah lagi-lagi menunjukkan sinyal yang melemah. Ini makin menguatkan kekhawatiran bahwa kelebihan pasokan global bakal menyeret harga lebih dalam.

Kondisi ini, setidaknya untuk sementara, bikin para pedagang di Asia bisa mengabaikan gejolak yang terjadi di Venezuela. Seperti dilaporkan Bloomberg, selisih harga antara patokan regional Dubai dengan berjangka Brent yang dikenal sebagai EFS melebar ke level terlebar sejak Agustus pada Senin lalu. Itu adalah pertanda jelas bahwa pasokan sedang berlimpah ruah.

Tak cuma itu, kurva forward untuk swap Dubai juga kembali ke kondisi contango. Pola bearish ini ditandai dengan harga kontrak jangka pendek yang lebih murah ketimbang kontrak jangka panjang.

Di sisi lain, selisih antara harga kargo spot dan patokan Dubai kian menyempit. Ambil contoh minyak Oman, favorit importir China. Harganya sekarang hampir setara dengan Dubai, padahal akhir bulan lalu masih ada premi sekitar satu dolar AS per barel. Data dari Indeks Umum mengonfirmasi hal ini.

Pelemahan ini bahkan mendorong harga minyak Upper Zakum dari Uni Emirat Arab ke diskon 35 sen level terendah sejak akhir 2023.

Memang, beberapa bulan belakangan pasar minyak global diwarnai kecemasan. Pasokan dunia dianggap telah melampaui permintaan, terutama setelah OPEC dan perusahaan pengeboran lain meningkatkan produksi. Akibatnya, harga berjangka Brent patokan utama anjlok 18 persen sepanjang tahun lalu. Itu adalah kinerja terburuk sejak 2020.

Banyak bank kini memprediksi pelemahan akan berlanjut. Morgan Stanley, misalnya, baru saja memangkas sejumlah proyeksi harganya pekan ini.

Posisi Timur Tengah sangat krusial. Kawasan ini memasok sekitar sepertiga minyak mentah dunia dan jadi pemasok utama bagi kilang-kilang Asia. Mencerminkan pelemahan, Saudi Aramco memotong harga jual ke pelanggan utama di Asia untuk ketiga kalinya berturut-turut. Imbasnya, selisih harga minyak Arab Light menyentuh titik terendah dalam lima tahun.

Kelonggaran pasokan di Timur Tengah ini rupanya sedikit meredakan ketegangan. Kekhawatiran bahwa intervensi AS di Venezuela lewat penangkapan Nicolás Maduro dan blokade kapal tanker bakal mengganggu aliran minyak dari negara Amerika Selatan itu, seolah teredam.

Padahal, kilang minyak di Tiongkok biasanya adalah pembeli utama minyak Venezuela. Namun anehnya, sampai sekarang belum terlihat lonjakan permintaan dari pembeli di daratan Tiongkok untuk minyak alternatif dari Timur Tengah, misalnya Basrah dari Irak. Begitu kata sejumlah pedagang yang diwawancarai.

“Kelebihan pasokan benar-benar berdampak pada pasar Timur Tengah. Hampir semua indikator menunjukkan pasar fisik yang lebih lemah,” ujar Warren Patterson, kepala strategi komoditas di ING Groep NV di Singapura.

“Ini tema yang berulang,” tambahnya, “pelaku pasar sepertinya tidak terlalu khawatir dengan risiko pasokan.”

Menurut sejumlah saksi, di balik layar perdagangan patokan Dubai juga terjadi aksi jual besar-besaran. Hanya sedikit pelaku yang berani melawan tekanan bearish dengan penawaran kuat. Beberapa pedagang yang enggan disebut namanya karena tak berwenang bicara publik mengaku, sekitar 8 juta barel minyak muatan Februari dari kawasan itu termasuk jenis Upper Zakum UEA dan Al-Shaheen Qatar masih belum ketemu pembeli.

Ini hal yang tidak biasa. Pasokan muatan Februari biasanya sudah selesai diperdagangkan pada akhir Desember. Tumpukan penjualan ini menandai setidaknya bulan keempat berturut-turut volume minyak mentah Arab-Teluk tak laku terjual. Padahal, biasanya kawasan ini mudah menjual hampir semua minyak yang ditawarkannya.

Sementara itu, harga minyak Brent sendiri bertahan di bawah 62 dolar AS per barel pada Selasa (6/1). Secara tahunan, harganya sudah terpangkas 19 persen dalam 12 bulan terakhir.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar