Kelonggaran pasokan di Timur Tengah ini rupanya sedikit meredakan ketegangan. Kekhawatiran bahwa intervensi AS di Venezuela lewat penangkapan Nicolás Maduro dan blokade kapal tanker bakal mengganggu aliran minyak dari negara Amerika Selatan itu, seolah teredam.
Padahal, kilang minyak di Tiongkok biasanya adalah pembeli utama minyak Venezuela. Namun anehnya, sampai sekarang belum terlihat lonjakan permintaan dari pembeli di daratan Tiongkok untuk minyak alternatif dari Timur Tengah, misalnya Basrah dari Irak. Begitu kata sejumlah pedagang yang diwawancarai.
“Kelebihan pasokan benar-benar berdampak pada pasar Timur Tengah. Hampir semua indikator menunjukkan pasar fisik yang lebih lemah,” ujar Warren Patterson, kepala strategi komoditas di ING Groep NV di Singapura.
“Ini tema yang berulang,” tambahnya, “pelaku pasar sepertinya tidak terlalu khawatir dengan risiko pasokan.”
Menurut sejumlah saksi, di balik layar perdagangan patokan Dubai juga terjadi aksi jual besar-besaran. Hanya sedikit pelaku yang berani melawan tekanan bearish dengan penawaran kuat. Beberapa pedagang yang enggan disebut namanya karena tak berwenang bicara publik mengaku, sekitar 8 juta barel minyak muatan Februari dari kawasan itu termasuk jenis Upper Zakum UEA dan Al-Shaheen Qatar masih belum ketemu pembeli.
Ini hal yang tidak biasa. Pasokan muatan Februari biasanya sudah selesai diperdagangkan pada akhir Desember. Tumpukan penjualan ini menandai setidaknya bulan keempat berturut-turut volume minyak mentah Arab-Teluk tak laku terjual. Padahal, biasanya kawasan ini mudah menjual hampir semua minyak yang ditawarkannya.
Sementara itu, harga minyak Brent sendiri bertahan di bawah 62 dolar AS per barel pada Selasa (6/1). Secara tahunan, harganya sudah terpangkas 19 persen dalam 12 bulan terakhir.
Artikel Terkait
Suara Kekecewaan 2025: Ketika KaburAjaDulu Menjadi Pilihan Rasional
MNC Life dan BPD DIY Perkuat Proteksi Nasabah dengan Asuransi Jiwa Kredit Personal Loan
Prestasi Bersejarah di SEA Games 2025, Bonus Atlet Emas Tembus Rp1 Miliar
Menkeu Purbaya: Demutualisasi BEI Bukti Kepercayaan Investor, IHSG 10.000 Bukan Mimpi