Rencananya, Trump akan bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak AS pekan ini. Tujuannya jelas: membahas cara meningkatkan produksi minyak Venezuela.
Reaksi pasar pun langsung terasa. Harga minyak mentah sempat melonjak sekitar satu dolar per barel. Tapi kemudian, kenaikan itu mereda. Pelaku pasar mulai mempertimbangkan dampak riilnya terhadap pasokan minyak dari negara dengan cadangan terbesar di dunia itu.
Menurut Yusuke Matsuo, ekonom pasar senior Mizuho Securities, dampak langsungnya terhadap ekonomi global kemungkinan kecil.
"Perekonomian Venezuela relatif kecil. Jadi, pasar keuangan dunia kecil kemungkinan terdampak langsung," jelas Matsuo. Ia juga menambahkan bahwa meningkatkan produksi minyak Venezuela bukan pekerjaan instan, butuh waktu bertahun-tahun untuk mewujudkannya.
Di sisi lain, sentimen risiko secara keseluruhan ternyata tidak terlalu terganggu. Pergerakan saham global lebih banyak digerakkan momentum pasar yang sudah kuat, sementara perhatian pelaku beralih ke data-data makroekonomi. Kontrak berjangka S&P 500 AS, misalnya, hanya naik tipis 0,1 persen.
Meski begitu, Matsuo memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik ini diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang tahun 2026. Dan dalam situasi seperti ini, aset safe-haven seperti emas berpotensi tetap menarik. Kinerjanya bisa tetap positif, meski aset berisiko lainnya juga masih solid.
Artikel Terkait
Saham PP Properti Melonjak 10% Usai BEI Cabut Suspensi
BEI Bekukan Perdagangan Wanteg Sekuritas Terkait Kondisi Operasional
Setelah Mediasi DPR, Mie Sedaap Gresik Janji Hentikan PHK Massal Jelang Ramadan
Analis Sucor: Saham Unggulan Tertekan Jauh di Bawah Nilai Wajar