Bursa saham Asia masih terus meroket di hari Selasa (6/1/2026). Ini melanjutkan tren positif dari Wall Street sehari sebelumnya, yang sukses cetak rekor baru. Dow Jones Industrial Average, misalnya, mencatat level tertinggi sepanjang masa, didorong kenaikan saham-saham sektor energi dan keuangan.
Di kawasan Asia, semangat itu tampaknya menular. Indeks MSCI Asia-Pasifik (di luar Jepang) naik 0,4 persen dan juga mencapai puncak sejarahnya. Jepang jadi penyumbang utama, dengan indeks Topix melesat 1,3 persen ke area rekor. Australia juga ikut merasakan dampaknya, indeksnya naik 1 persen.
Namun begitu, tidak semua bergerak hijau. Indeks KOSPI Korea Selatan justru terkoreksi 0,4 persen, mundur dari rekor yang baru dicapai Senin lalu. Sementara itu, performa bursa China dan Hong Kong tetap solid, dengan kenaikan masing-masing 0,3 persen dan 0,7 persen.
Lalu, apa yang memicu reli ini? Salah satu pemicunya datang dari berita geopolitik yang cukup mengejutkan. Operasi militer AS akhir pekan lalu berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Berita ini langsung mendongkrak saham-saham perusahaan minyak besar AS, seperti Chevron yang melonjak lebih dari 5 persen.
Presiden AS Donald Trump pun angkat bicara. Ia menyatakan akan menempatkan Venezuela di bawah kendali sementara Amerika Serikat.
"Kami akan membuka industri minyak mereka dan menghentikan perdagangan narkoba. Jika tidak ada kerja sama, serangan lanjutan akan diperintahkan," ancam Trump, yang juga melontarkan ancaman serupa terhadap Kolombia dan Meksiko.
Artikel Terkait
MNC Life dan BPD DIY Perkuat Proteksi Nasabah dengan Asuransi Jiwa Kredit Personal Loan
Prestasi Bersejarah di SEA Games 2025, Bonus Atlet Emas Tembus Rp1 Miliar
Menkeu Purbaya: Demutualisasi BEI Bukti Kepercayaan Investor, IHSG 10.000 Bukan Mimpi
Analis HSBC Proyeksikan Emas Tembus USD 5.000 pada Awal 2026