Namun begitu, pertemuan dengan perusahaan-perusahaan itu kabarnya baru akan digelar akhir pekan ini. Agak terlambat, memang.
“Saya rasa Anda tidak akan melihat perusahaan mana pun selain Chevron yang sudah berada di sana untuk berkomitmen mengembangkan sumber daya ini,”
Ujar salah satu eksekutif tadi, menyiratkan keraguan investor untuk masuk ke Venezuela dalam kondisi yang masih sangat tidak pasti.
Kondisi industri minyak Venezuela sendiri sudah lama memprihatinkan. Produksinya merosot tajam selama beberapa dekade, terhantam salah kelola dan minimnya suntikan modal asing pasca-nasionalisasi di era 2000-an. Tahun lalu, produksinya rata-rata cuma sekitar 1 juta barel per hari. Itu setara dengan satu persen saja dari pasokan minyak global.
Di sisi lain, ada secercah harapan. Presiden sementara Venezuela pada Minggu menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat. Jika hubungan membaik, sanksi bisa dicabut dan minyak yang tertahan bisa mengalir ke pasar.
“Saya memperkirakan serangan dan blokade laut akan dicabut dan, pada akhirnya, sanksi akan dihapuskan, sehingga sebagian besar jika tidak seluruh minyak Venezuela yang tertahan di laut dan di gudang berikat dapat tersedia bagi pasar,”
Kata Simon Wong, Manajer Portofolio di Gabelli Funds. Meski begitu, dia mengingatkan bahwa Venezuela tetap butuh waktu yang tidak sebentar untuk benar-benar meningkatkan produksinya. Jadi, dampak langsung ke pasokan mungkin belum akan terasa dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
MNC Life dan BPD DIY Perkuat Proteksi Nasabah dengan Asuransi Jiwa Kredit Personal Loan
Prestasi Bersejarah di SEA Games 2025, Bonus Atlet Emas Tembus Rp1 Miliar
Menkeu Purbaya: Demutualisasi BEI Bukti Kepercayaan Investor, IHSG 10.000 Bukan Mimpi
Analis HSBC Proyeksikan Emas Tembus USD 5.000 pada Awal 2026