Pada hari yang sama, harga emas spot melonjak 2,1 persen ke level USD 4.420 per ons. Kenaikan perak bahkan lebih tajam, mencapai 4,8 persen. Investor jelas sedang mencari tempat aman, mengantisipasi risiko yang tiba-tiba membesar.
"Pasar kini dipaksa untuk menilai ulang bukan hanya risiko Venezuela tetapi juga ketidakpastian AS dan jangkauan militernya,"
Demikian kata Nicky Shiels, kepala penelitian di MKS Pamp SA, sebuah perusahaan pengolahan logam mulia.
Lonjakan ini seolah menjadi puncak dari tren bullish emas sepanjang tahun lalu. Logam kuning itu baru saja mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 1979. Didorong oleh pembelian agresif bank sentral berbagai negara dan derasnya aliran dana ke reksadana emas, harganya terus memecahkan rekor.
Jadi, sementara otoritas pajak bersiap mengawasi aset digital lebih ketat, emas justru membuktikan diri sebagai safe haven yang tetap tak tergantikan di tengah gejolak.
Artikel Terkait
IHSG Menguat Tipis, PEGE dan HDFA Melonjak di Atas 34%
Bakrie Sumatera Plantations Catat Penjualan Rp2,56 Triliun dan Lonjakan Laba Operasi 86% pada 2025
Latinusa Waspadai Tekanan Impor Tinplate, Bidik Pendapatan USD160 Juta pada 2026
Indocement Akhiri Program Buyback Lebih Cepat, Target 1,88% Saham Tercapai