"Kalau menurut saya enggak, sih. Soalnya intervensi BI itu bukan cuma dari BI sendiri. Pemerintah dan emiten swasta juga ikut melakukan intervensi," ujar Ibrahim.
Dengan upaya kolektif itu, ia menilai pelemahan rupiah bakal relatif terbatas. Meski dolar menguat tajam, pergerakannya mungkin cuma sekitar 15 poin.
"Ya artinya benar-benar BI harus melakukan intervensi di pasar domestik maupun internasional," tuturnya.
Sementara itu, lonjakan harga emas global jadi bukti nyata lain dari dampak serangan itu. Ibrahim mencatat, harga emas dunia melonjak tajam (gap up) sekitar USD 92, menyentuh level tertinggi di kisaran USD 4.420 per troy ounce.
Ia menjelaskan, ketegangan geopolitik di berbagai kawasan mulai dari Amerika Latin, Timur Tengah, sampai Eropa masih jadi pendorong utama kenaikan ini. Termasuk buat harga Logam Mulia di dalam negeri.
Ibrahim bahkan memperkirakan harga emas dunia bisa merangkak naik mendekati USD 5.600 dalam waktu dekat. Kalau itu terjadi, harga emas lokal berpotensi menyentuh Rp 2,61 juta per gram akhir pekan depan.
"Harga minyak naik, emas dunia naik, rupiah melemah. Ini semua indikasi yang sama: ketegangan geopolitik mengerek harga komoditas, dan penguatan dolar akhirnya berdampak ke rupiah," sebut Ibrahim menyimpulkan.
Jadi, satu peristiwa di Venezuela ternyata gelombangnya terasa sampai ke sini. Mulai dari harga emas di toko perhiasan sampai nilai tukar yang mempengaruhi harga barang impor. Semuanya saling terkait.
Artikel Terkait
Tiang Monorel Mangkrak di Jakarta Akan Dibongkar Pekan Ketiga Januari
Dua Petinggi TAYS Serahkan Surat Mundur, Saham Justru Meroket
Pintu Saudi Terbuka: Properti Kerajaan Jadi Buruan Investor Global
Komisaris PT Panca Mitra Mundur, Kesibukan Luar Jadi Alasan