Pekan ini, IHSG berpeluang mencetak rekor baru. Fenomena January Effect dan derasnya arus modal asing jadi pendorong utamanya. Tak cuma itu, sentimen dari Wall Street yang masih solid sepanjang awal 2025 ini juga memberi angin segar bagi pasar global.
Hari Rachmansyah, analis dari Indo Premier Sekuritas, melihat optimisme itu. Menurutnya, performa gemilang sektor teknologi tahun lalu dengan S&P 500 naik lebih dari 16%, Nasdaq melesat di atas 20%, dan Dow Jones tumbuh 13% memberikan fondasi yang kuat.
Namun begitu, ada juga awan mendung yang perlu diwaspadai.
"Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela, termasuk kabar serangan militer, berpotensi memengaruhi harga komoditas global, khususnya minyak, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan," kata Hari dalam risetnya, Senin (5/1/2026).
Nah, IHSG sendiri sudah menunjukkan taringnya. Hingga 2 Januari kemarin, indeks bertengger di 8.748,13. Kekuatan ini didukung aksi beli bersih investor asing yang mencapai Rp1,3 triliun di pasar reguler. Saham-saham seperti DEWA, ANTM, dan BRMS jadi favorit mereka.
Hari bilang, pergerakan ini adalah gabungan antara sisa-sisa Santa Claus Rally dan dimulainya January Effect yang bikin selera risiko investor meningkat.
Lalu, apa yang harus dicermati pekan ini? Dari dalam negeri, data makro seperti neraca perdagangan, inflasi, dan Indeks Keyakinan Konsumen bakal jadi perhatian. Prediksinya sih, tetap stabil.
"Meski demikian, pergerakan IHSG tetap akan dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama arah kebijakan global. Namun secara keseluruhan, peluang penguatan masih terbuka," ujar Hari.
Artikel Terkait
Wall Street Naik, Minyak Venezuela Jadi Magnet Baru Investor
Wall Street Melonjak Usai Penangkapan Maduro, Trump Buka Keran Minyak Venezuela
Dari Warung ke Kelas: Kisah Ibu Selly yang Menjaga Sekolah Gratis di Pulau Saparua
Geliat Saham Nikel: Sentimen Positif Berkat Rencana Pemangkasan Pasokan