Jembatan Melaka-Dumai: Antara Ambisi Malaysia dan Kekhawatiran di Indonesia

- Minggu, 04 Januari 2026 | 19:48 WIB
Jembatan Melaka-Dumai: Antara Ambisi Malaysia dan Kekhawatiran di Indonesia

Pendapat senada datang dari Muhammad Syaifullah, pengamat transportasi. Ia menyoroti soal pembiayaan dan lalu lintas. "Traffic-nya belum tentu tinggi, jadi butuh dukungan pemerintah yang kuat untuk membuatnya feasible. Sumber dananya dari mana, loan atau patungan, itu juga masih pertanyaan besar," jelas Syaifullah.

Di sisi lain, proyek ambisius ini juga berpotensi mengganggu lalu lintas padat di Selat Melaka, jalur pelayaran internasional yang sangat sibuk. Meski demikian, Syaifullah bilang proyek ini tetap mungkin terwujud. "Asalkan Indonesia punya rencana dan komitmen nyata untuk mengembangkan kawasan seperti Bengkalis dan Riau," tambahnya.

Rencana ini pun tak lepas dari kritik di internal Malaysia sendiri. Ketua oposisi Melaka, Yadzil Yaakub, misalnya, mempertanyakan kelayakan dan tujuan sesungguhnya dari pembangunan jembatan tersebut.

Di Indonesia, pembahasan sudah mulai bergulir. Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan Kota Dumai, bersama universitas teknik Malaysia, telah menggelar diskusi kelompok terpumpun beberapa waktu lalu. Mereka membahas berbagai aspek kelayakan proyek, mulai dari finansial, lingkungan, hingga tata kelola.

Toharudin, Asisten Perekonomian Pemkab Bengkalis, menyatakan dukungan penuh terhadap studi kelayakan ini.

"Kami mendukung penuh. Ini upaya memperkuat konektivitas dan membuka jalur strategis baru untuk percepatan ekonomi masyarakat pesisir Riau, khususnya Bengkalis dan Dumai," ujarnya.

Jadi, meski di atas kertas menjanjikan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi, jalan menuju jembatan Melaka-Dumai masih dipenuhi tanda tanya. Antara peluang dan kerugian, semuanya masih perlu dikalkulasi dengan sangat hati-hati.


Halaman:

Komentar