Berita tentang serangan Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro tentu saja mengguncang. Di tengah situasi geopolitik yang memanas, banyak yang langsung bertanya-tanya: bagaimana nasib harga minyak dunia nantinya?
Namun begitu, menurut sejumlah pengamat, dampaknya terhadap pasar minyak global mungkin tidak sebesar yang dikhawatirkan. Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), menilai kejadian ini tidak akan mendongkrak harga minyak dalam waktu dekat.
“Saya tidak melihat faktor Venezuela akan menaikkan harga minyak dalam jangka pendek,” ujar Fabby, Minggu (4/1).
Alasannya cukup jelas. Saat ini, pasokan minyak global justru surplus sekitar 3 juta barel per hari. Sementara itu, kontribusi produksi Venezuela hanya sekitar 1 persen dari total produksi dunia. Angka itu terlalu kecil untuk membuat gejolak berarti.
Di sisi lain, mayoritas minyak Venezuela punya jalur distribusi yang sudah pasti. Fabby menjelaskan, sekitar 80 persen ekspor minyak negeri itu ditujukan ke China berdasarkan kontrak jangka panjang.
“Jadi itu enggak terlalu mempengaruhi pasar spot,” tambahnya.
Artinya, minyak itu sudah ‘terbooking’ untuk pelanggan tetap. Aliran komoditasnya tidak masuk ke pasar terbuka yang bisa langsung bereaksi terhadap spekulasi. Dengan begitu, guncangan dari serangan AS terhadap harga minyak dunia diprediksi tak akan signifikan.
Lalu, bagaimana dengan masa depan? Fabby justru melihat potensi lain. Jika AS benar-benar masuk dan membantu memperbaiki industri minyak Venezuela seperti yang sempat diwacanakan Donald Trump bukan tidak mungkin produksi justru bisa meningkat. Apalagi, cadangan minyak mentah Venezuela sangat besar, mencapai sekitar 303 miliar barel atau 20 persen sumber daya dunia. Sayangnya, cadangan itu belum dimanfaatkan maksimal.
Kalau produksi naik, harga minyak dunia malah berpotensi turun. Tapi jangan berharap cepat. Fabby meragukan peningkatan produksi bisa terjadi penuh dalam waktu kurang dari setahun.
“Hanya kalau kemudian... misalkan dalam waktu 6 bulan ke depan produksi mengalami kenaikan, mungkin harganya di masa depan akan turun lagi. Tapi kan bergantung pada produksinya,” ungkapnya.
Bagaimana dengan China, sang pembeli utama? Menurut Fabby, dampak ekonominya juga tidak akan terlalu terasa. Perekonomian China sudah sangat terdiversifikasi, ditopang oleh konsumsi dalam negeri dan ekspor produk manufaktur.
“Kalaupun harga minyak naik, saya nggak terlalu yakin China itu akan masalah ekonominya,” katanya.
Pendapat serupa datang dari pengamat energi lain, Bisman Bakhtiar dari Pushep. Ia menegaskan, posisi Venezuela di pasar minyak global tidak cukup besar untuk memicu lonjakan drastis. Pasar saat ini dinilai cukup adaptif.
“Suplai dari AS dan negara-negara OPEC masih mampu menutup potensi gangguan,” terang Bisman.
Meski begitu, ia mengakui fluktuasi harga jangka pendek tetap mungkin terjadi. Namun untuk China, posisinya diprediksi tetap aman.
Fakta menariknya, meski data resmi Bloomberg mencatat China akan berhenti mengimpor minyak mentah Venezuela per Maret 2025, aliran minyak di lapangan ternyata masih kuat sepanjang tahun lalu. Minyak berat jenis Merey dari Venezuela masih banyak dicari kilang-kilang independen di China, yang akrab disebut ‘teapots’.
Minyak Merey ini biasanya dipakai untuk bikin aspal jalan. Harganya murah, ditawarkan dengan diskon besar, sehingga sangat menarik bagi kilang dengan margin tipis. Yang unik, pengirimannya punya pola tidak biasa. Butuh waktu lebih dari dua bulan, melibatkan beberapa kali pemindahan muatan antar kapal di tengah laut sebuah taktik yang diduga untuk menyamarkan asal-usul kargo.
Artikel Terkait
Analis Proyeksikan IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan Pekan Depan
Wall Street Hadapi Pekan Penuh Tantangan: Laporan Nvidia dan Dampak Putusan Tarif Trump Jadi Sorotan
Agrinas Impor 105.000 Pikap dari India untuk Dukung Logistik Koperasi Desa
BPJS Kesehatan: Iuran dan Tunggakan Berlaku per Kartu Keluarga, Bukan Per Individu