Kalau produksi naik, harga minyak dunia malah berpotensi turun. Tapi jangan berharap cepat. Fabby meragukan peningkatan produksi bisa terjadi penuh dalam waktu kurang dari setahun.
Bagaimana dengan China, sang pembeli utama? Menurut Fabby, dampak ekonominya juga tidak akan terlalu terasa. Perekonomian China sudah sangat terdiversifikasi, ditopang oleh konsumsi dalam negeri dan ekspor produk manufaktur.
Pendapat serupa datang dari pengamat energi lain, Bisman Bakhtiar dari Pushep. Ia menegaskan, posisi Venezuela di pasar minyak global tidak cukup besar untuk memicu lonjakan drastis. Pasar saat ini dinilai cukup adaptif.
Meski begitu, ia mengakui fluktuasi harga jangka pendek tetap mungkin terjadi. Namun untuk China, posisinya diprediksi tetap aman.
Fakta menariknya, meski data resmi Bloomberg mencatat China akan berhenti mengimpor minyak mentah Venezuela per Maret 2025, aliran minyak di lapangan ternyata masih kuat sepanjang tahun lalu. Minyak berat jenis Merey dari Venezuela masih banyak dicari kilang-kilang independen di China, yang akrab disebut ‘teapots’.
Minyak Merey ini biasanya dipakai untuk bikin aspal jalan. Harganya murah, ditawarkan dengan diskon besar, sehingga sangat menarik bagi kilang dengan margin tipis. Yang unik, pengirimannya punya pola tidak biasa. Butuh waktu lebih dari dua bulan, melibatkan beberapa kali pemindahan muatan antar kapal di tengah laut sebuah taktik yang diduga untuk menyamarkan asal-usul kargo.
Artikel Terkait
BUAH Sewa Aset Komisaris dengan Harga Ramah Rp200 Juta per Tahun
Chandra Asri Lepas Aset Rp84 Miliar ke Perusahaan Afiliasi
Wall Street Melonjak Usai Penangkapan Maduro, Trump Tuntut Akses Minyak Venezuela
Banjir Pohuwato, Merdeka Gold Bergerak Cepat Bantu Warga