AS Ambil Alih Cadangan Minyak Venezuela, Cadangan Terbesar Dunia yang Terkunci

- Minggu, 04 Januari 2026 | 14:50 WIB
AS Ambil Alih Cadangan Minyak Venezuela, Cadangan Terbesar Dunia yang Terkunci

JAKARTA – Langkah AS kali ini benar-benar mengguncang. Presiden Donald Trump mengumumkan Amerika Serikat telah mengambil alih kendali atas cadangan minyak Venezuela. Rencananya, perusahaan-perusahaan raksasa minyak dari AS akan direkrut untuk menanamkan modal miliaran dolar. Tujuannya? Memulihkan industri minyak negara itu yang nyaris hancur berantakan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Marco Rubio disebut-sebut sedang merancang detail pengelolaan aset berharga itu. Ini menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya.

Tapi, sebenarnya seberapa besar sih kekayaan minyak yang diperebutkan ini?

Angkanya sungguh fantastis. Menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), Venezuela punya cadangan minyak mentah yang mencapai 303 miliar barel. Coba bayangkan, itu setara dengan seperlima dari total cadangan minyak dunia! Sumber daya sebesar itu jelas akan menjadi penentu masa depan Venezuela.

Trump bersikeras, AS akan mengelola pemerintahan Venezuela untuk sementara. Meski dampak langsung pada harga minyak global masih samar-samar apalagi pasar lagi tutup di akhir pekan langkah ini sudah diambil.

"Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar AS, yang terbesar di dunia untuk masuk, mengucurkan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah," tegas Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Minggu (4/1/2026).

Faktanya, Venezuela memang juaranya. Cadangan minyak mentah terbuktinya yang 303 miliar barel itu membuatnya melampaui Arab Saudi. Pada 2023, angka itu mewakili hampir 20 persen cadangan global.

Kalau upaya pemulihan yang dipimpin AS ini berjalan, Venezuela berpotensi bangkit sebagai pemasok minyak utama. Peluang baru tentu terbuka lebar bagi perusahaan-perusahaan energi Barat. Di satu sisi, ini bisa membantu menstabilkan harga minyak dunia. Tapi hati-hati, harga yang terlalu murah justru bisa bikin produksi beberapa perusahaan minyak dalam negeri AS jadi kurang menarik.

Namun begitu, jangan berharap perubahan terjadi dalam sekejap. Meski akses internasional nantinya dibuka penuh, butuh waktu bertahun-tahun dan dana yang tidak sedikit untuk menghidupkan kembali produksi minyak Venezuela.

Keadaannya memang memprihatinkan. Perusahaan minyak negara, PDVSA, mengakui pipa-pipa mereka tidak pernah diperbarui selama setengah abad. Mereka memperkirakan, butuh dana sekitar 58 miliar dolar AS hanya untuk mengembalikan produksi ke level puncaknya dulu.

"Bagi sektor minyak, ini bisa menjadi peristiwa bersejarah," kata Phil Flynn, seorang analis pasar senior di Price Futures Group.

Dia melanjutkan dengan nada keras, "Rezim Maduro dan Hugo Chavez pada dasarnya telah merampok industri minyak Venezuela."

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar