Presiden Direktur SULI Suntik Rp 26 Miliar dari Kantong Sendiri untuk Selamatkan Perusahaan

- Minggu, 04 Januari 2026 | 09:30 WIB
Presiden Direktur SULI Suntik Rp 26 Miliar dari Kantong Sendiri untuk Selamatkan Perusahaan

PT SLJ Global Tbk (SULI) baru saja mendapat angin segar. Perusahaan perkayuan itu mendapatkan suntikan dana berupa pinjaman dari pemegang saham senilai 2 juta dolar Singapura, atau sekitar Rp 26 miliar. Yang menarik, pemberi pinjamannya adalah Amin Sunarko, sang Presiden Direktur sendiri.

Ini bukan kebetulan. SULI diketahui sedang bergulat dengan proses restrukturisasi utang dan berusaha memperkuat modalnya. Pinjaman dari bosnya itu datang di saat yang tepat.

Menurut manajemen, kondisi likuiditas perusahaan terus menipis. Padahal, kebutuhan operasional seperti beli lahan dan bahan baku tak bisa ditunda.

"Perseroan akan menggunakan dana pinjaman tersebut untuk menunjang kelangsungan usaha perseroan,"

begitu penjelasan resmi mereka yang dirilis Minggu (4/1/2026). Mereka juga menekankan bahwa pinjaman ini tanpa bunga. Jelas, ini jauh lebih ringan ketimbang harus meminjam dari bank.

Di sisi lain, SULI juga sedang menggarap rencana private placement. Skemanya, Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), dengan porsi hingga 10% dari modal yang sudah disetor. Upaya ini memperlihatkan betapa seriusnya mereka ingin bangkit.

Soal Amin Sunarko, dia bukan cuma pucuk pimpinan di SULI. Pria ini juga duduk sebagai Direktur di Naturverse, yang kebetulan adalah pemegang saham mayoritas SULI dengan kepemilikan sekitar 20,57%.

Lalu, untuk apa dana segar itu digunakan? Utamanya, untuk membayar liabilitas jangka pendek yang membebani perusahaan. Per 30 September 2025, beban itu mencapai USD 23,4 juta. Dengan pelunasan yang fleksibel hingga akhir Maret 2026, pinjaman ini diharapkan bisa memberi ruang gerak bagi arus kas. Setidaknya, perusahaan bisa bernapas lega dan fokus ke hal-hal yang produktif.

Harapannya jelas: kinerja perusahaan membaik. Targetnya, produksi dan penjualan bisa didongkrak lebih agresif untuk membalikkan tren keuangan yang suram.

Memang, jalan masih panjang. Hingga kuartal ketiga 2025, SULI masih tercatat merugi Rp 19 miliar. Tapi, angka itu sebenarnya sudah menunjukkan perbaikan dibanding periode sama tahun sebelumnya yang ruginya mencapai Rp 107 miliar. Sebuah titik terang, meski kecil.

Jadi, pinjaman dari direktur ini lebih dari sekadar transaksi. Ini adalah upaya penyelamatan dari dalam, sebuah langkah nekat untuk bertahan dan berharap bisa bangkit kembali.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar