Di balik angka-angka yang positif, tantangan klasik ternyata masih ada. Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia, Akhmad Ma’ruf Maulana, menyoroti soal tata ruang. Menurutnya, banyak proyek bahkan yang berstatus PSN masih terhambat izin PKKPR atau KKPR. Padahal, sudah ada mandat percepatan dari pemerintah.
Masalahnya, sering terjadi ketidaksinkronan antara Rencana Tata Ruang Wilayah dengan kebijakan sektoral. Akibatnya? Investor harus menunggu lebih lama.
“Tata ruang adalah urat nadi kawasan industri. Selama perizinan dasar belum sinkron, percepatan investasi akan selalu tertahan. Ini harus menjadi fokus penyelesaian lintas kementerian di 2026,” tegas Ma’ruf.
Kendala lain datang dari sisi utilitas. Pasokan listrik dan harga gas untuk industri belum sepenuhnya sesuai kebutuhan. Beberapa kawasan juga masih bermasalah dengan akses logistik, yang ujung-ujungnya bikin biaya produksi membengkak.
Meski begitu, 2025 juga jadi tahun di mana transformasi digital dan hijau mulai terasa. Mulai dari penerapan digital estate, pemanfaatan AI, sampai integrasi sistem perizinan menunjukkan kemajuan tata kelola.
Geliat investasi asing juga terlihat, terutama dari Jepang, Singapura, China, hingga Eropa Timur. Minat mereka berfokus pada sektor-sektor masa depan: baterai dan mobil listrik, energi terbarukan, pusat data, dan manufaktur teknologi tinggi.
Sepanjang tahun lalu, HKI aktif mendorong pembentukan satgas percepatan, memperluas fasilitas kemudahan investasi, dan mengawal inisiatif lintas kementerian. Mereka juga membuka kerja sama dengan sejumlah negara untuk memastikan kawasan industri Indonesia masuk dalam rantai pasok global.
Memasuki 2026, optimisme itu tetap ada. Pergeseran rantai pasok global dan relokasi industri dari Asia Timur membuka peluang besar. Apalagi permintaan untuk produk manufaktur teknologi tinggi terus meningkat.
“Jika hambatan tata ruang dan utilitas bisa dituntaskan, 2026 dapat menjadi tahun percepatan investasi. Kawasan industri berpotensi menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi menuju target 8 persen. Kami optimistis bahwa di bawah komando Presiden Prabowo Subianto, Indonesia pasti bisa mengejar pertumbuhan ekonomi," pungkas Ma’ruf.
Artikel Terkait
Trump Janji Investasi Minyak AS di Venezuela, Tapi Raksasa Energi Malah Mundur Teratur
IHSG Menguat, Saham Bank Artha Graha Internasional Tembus 34%
BRI Luncurkan VISA Infinite, Sasar Gaya Hidup Global Nasabah Premium
GTSI: Dari Kapal Pertama Humpuss hingga Saham yang Melonjak 786%