GLOB Pacu Bisnis Baru dengan Teknologi Olah Sampah Sirkular

- Minggu, 04 Januari 2026 | 07:50 WIB
GLOB Pacu Bisnis Baru dengan Teknologi Olah Sampah Sirkular

PT Globe Kita Terang Tbk (GLOB) sedang bersiap untuk menggenjot bisnis barunya di tahun ini. Fokusnya adalah pada Teknologi Olah Sampah Sirkular, atau yang biasa disingkat TOSS. Langkah ini diambil perusahaan tak lepas dari upaya mencari sumber pendapatan baru, terutama saat kinerja di sektor lain sedang lesu.

Menurut Direktur Utama GLOB, Sugiono Wiyono Sugialam, proyek ini bukan cuma soal uang. “Ini juga bagian dari komitmen kami untuk mengembangkan ekonomi hijau,” ujarnya. Lewat TOSS dan perdagangan pupuk organik, perusahaan ingin punya dampak yang lebih luas.

Rupanya, persiapan sudah berjalan cukup lama. Proyek percontohan TOSS pertama kali digulirkan di Bank Sampah Kranggan sejak November 2025. Setelah masa uji coba, produksi akhirnya dimulai di awal Desember.

"Sampai saat ini, produksi sudah mulai berjalan," kata Sugiono, Minggu (4/1/2026). "Rencananya, eskalasi jumlah produksi akan kami mulai bertahap mulai Januari 2026."

Soal modal, investasi awal terbilang cukup hemat. Hingga akhir 2025, GLOB hanya menggelontorkan kurang dari Rp50 juta untuk mesin perapian dan produksi di proyek TOSS Kranggan, Bekasi. Kalau ditambah biaya operasional, totalnya baru sekitar Rp75 juta. Dana itu sejauh ini masih bersumber dari internal perusahaan.

Namun begitu, untuk mengembangkan skala yang lebih besar, GLOB tidak menutup mata. Mereka sedang menjajaki kemungkinan kerja sama dengan investor pihak ketiga. Pasalnya, kebutuhan dana untuk tahun depan tidak lagi kecil.

Sugiono mengungkapkan, “Proyek pengembangan TOSS pada tahun 2026 diperkirakan membutuhkan belanja modal (capex) sekitar Rp1,5 miliar.” Angka yang cukup signifikan untuk bisnis yang baru merangkak ini.

Lalu, apa yang mendorong diversifikasi ini? Ternyata, kinerja perusahaan belakangan memang sedang tidak baik-baik saja. Hingga 30 September 2025, pendapatan GLOB tercatat hanya Rp39,6 miliar. Jauh melorot dibanding periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp149 miliar.

Penyebab utamanya adalah penurunan drastis di segmen penjualan telepon seluler, dari Rp98 miliar menjadi hanya Rp10 miliar. Jatuhnya cukup tajam.

Meski demikian, Sugiono menegaskan bahwa bisnis telekomunikasi tetap akan dijalankan. Di sisi lain, perusahaan akan terus mendorong sumber pendapatan baru. Selain TOSS, mereka masih mengandalkan penjualan mesin dan peralatan kopi yang menyumbang Rp14,6 miliar. Masa depan GLOB, tampaknya, sedang ditata ulang.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar