Ledakan mengguncang Caracas dini hari Sabtu (3/1). Bukan cuma sekali, tapi beruntun. Menurut laporan AP, setidaknya tujuh kali dentuman keras terdengar di ibu kota Venezuela itu. Serangan ini, yang diklaim sebagai aksi militer Amerika Serikat, juga terjadi di sejumlah negara bagian lain seperti Miranda, Aragua, dan La Guaira.
Sejak pukul dua pagi, warga melaporkan melihat pesawat tempur terbang rendah di langit Caracas. Beberapa jam sebelumnya, tepatnya pukul 01.00 EST, Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) sudah lebih dulu mengeluarkan larangan terbang untuk semua pesawat AS di wilayah udara Venezuela. Isyaratnya jelas: sesuatu yang besar sedang terjadi.
Dan memang. Aksi itu ternyata tak berhenti di serangan udara. Pasukan khusus elite AS, Delta Force, bergerak masuk. Target mereka adalah Presiden Nicolas Maduro. Operasi itu berhasil. Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, berhasil ditangkap dan langsung diterbangkan keluar dari Venezuela pada hari yang sama.
Presiden AS Donald Trump tak menunggu lama untuk mengklaim kemenangan. Melalui unggahan di Truth Social, dia dengan gamblang mengonfirmasi operasi tersebut.
Ini adalah pertama kalinya Washington secara terbuka mengumumkan serangan darat di wilayah Venezuela. Sebuah eskalasi yang dramatis.
Artikel Terkait
Data Kontap Bermasalah, Aktivasi Coretax Tersendat
Modal Asing Rp 2,43 Triliun Serbu Indonesia di Akhir 2025
MPXL Melonjak 11%, Manajemen Pacu Strategi Baru di Awal 2026
Serangan AS ke Venezuela Tak Akan Goyahkan Harga Minyak Global