Belum selesai di sana, ancaman Trump juga mengudara ke Iran. Dia mengancam akan membantu para demonstran jika aparat keamanan negeri itu menembaki massa. Gelombang kerusuhan dalam negeri Iran sendiri disebut-sebut sebagai ancaman domestik terberat dalam beberapa tahun belakangan.
Di sisi lain, dinamika di kawasan produsen minyak juga tak kalah rumit. Krisis antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait Yaman semakin dalam, ditandai dengan dihentikannya penerbangan di Bandara Aden, Kamis lalu. Ini terjadi tepat sebelum pertemuan penting OPEC yang dijadwalkan pada Minggu.
Menurut June Goh, analis dari Sparta Commodities, sebagian besar pelaku pasar memperkirakan kelompok produsen ini akan mempertahankan jeda kenaikan produksi mereka di kuartal pertama.
"Tahun 2026 ini akan jadi tahun penentu untuk menilai seberapa efektif keputusan OPEC dalam menyeimbangkan pasar," katanya.
Goh juga menambahkan satu faktor penopang: permintaan dari China. Negeri Tirai Bambu itu diperkirakan akan terus membangun cadangan minyak mentahnya setidaknya hingga paruh pertama tahun ini, yang tentu bisa memberi sedikit napas bagi harga.
Memang, jika melihat ke belakang, catatan tahun 2025 cukup suram. Harga acuan Brent dan WTI masing-masing anjlok hampir 20 persen penurunan terdalam sejak pandemi 2020. Bagi Brent, ini adalah tahun ketiga berturut-turut harganya melemah, sebuah rekor panjang yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Priyanka Sachdeva, analis dari Phillip Nova, punya penjelasan untuk kondisi yang terasa datar ini. Menurutnya, pasar sedang berada dalam tarik-menarik klasik. Di satu sisi ada risiko geopolitik jangka pendek yang bisa memicu volatilitas, di sisi lain fundamental jangka panjang masih berbicara tentang satu hal: kelebihan pasokan yang belum teratasi.
Artikel Terkait
Tenun Baduy Menyapa Dunia: Kisah YUSUF.IND Bertahan di Tengah Gempuran Pasar Fesyen
Trump Kerahkan Raksasa Minyak AS Garap Ladang Minyak Venezuela yang Terbengkalai
Triliunan Yen Terkunci di Rekening Lansia Jepang, Ancaman Diam bagi Ekonomi
Presiden Direktur SULI Suntik Rp 26 Miliar dari Kantong Sendiri untuk Selamatkan Perusahaan