Triliunan Yen Terkunci di Rekening Lansia Jepang, Ancaman Diam bagi Ekonomi

- Minggu, 04 Januari 2026 | 10:30 WIB
Triliunan Yen Terkunci di Rekening Lansia Jepang, Ancaman Diam bagi Ekonomi

Jepang punya masalah besar yang pelan-pelan menggerogoti perekonomiannya: penduduknya semakin tua. Bayangkan, hampir sepertiga dari 123 juta jiwa penduduknya sudah berusia di atas 65 tahun. Lebih dari 10 persennya bahkan telah melampaui usia 80 tahun. Di balik angka-angka itu, tersimpan persoalan pelik. Aset likuid senilai fantastis, sekitar 315 triliun yen, justru mengendap di rekening-rekening bank. Pemiliknya? Para lansia yang fungsi kognitifnya mulai menurun, banyak yang bergulat dengan demensia.

Nilai aset yang mencapai Rp 33.405 triliun itu, menurut data Sumitomo Mitsui Trust Bank Ltd, diprediksi akan terus membengkak. Ironisnya, uang sebanyak itu tak bergerak. Banyak pemiliknya sudah tak sanggup lagi mengelolanya dengan optimal. Situasinya makin rumit karena sebagian dari mereka tidak punya keturunan. Bank dan otoritas pun kebingungan, bagaimana nasib dana-dana itu nantinya.

Kesadaran akan risiko ini mulai muncul, meski belum merata. Ambil contoh Teruo, pria 84 tahun asal Prefektur Toyama. Di usianya yang senja, ia masih rajin berolahraga dan menjaga rutinitas. Tapi kekhawatiran itu ada.

“Di usia saya, Anda mulai bertanya-tanya berapa tahun lagi yang tersisa,” ujarnya.

“Risiko hal-hal seperti demensia mulai terasa sangat personal. Satu-satunya hal yang benar-benar saya fokuskan adalah menyiapkan cukup uang untuk ditinggalkan bagi anak-anak saya, ketika saatnya tiba.”

Sayangnya, kesiapan seperti yang dimiliki Teruo masih langka. Banyak lansia lainnya tidak punya sistem pendampingan saat ingatan dan kemampuan mengambil keputusan mereka memudar. Akibatnya, dana yang menumpuk itu rentan salah kelola, jadi sasaran empuk penipuan, atau paling banter cuma diam di rekening tanpa guna.

“Mayoritas orang lanjut usia tidak memiliki mekanisme untuk mengelola keuangan mereka, sehingga rentan terhadap kehilangan kekayaan dan penyalahgunaan finansial. Ini mengerikan,” kata Satoshi Nojiri, CEO FinWell Research.

“Triliunan menumpuk di rekening para lansia, tetapi kami tidak benar-benar tahu bagaimana memanfaatkan uang itu secara produktif,” tambahnya.


Halaman:

Komentar