Harga minyak justru melemah di hari pertama perdagangan 2026, Jumat lalu. Padahal, tahun sebelumnya, minyak sudah mengalami penurunan tahunan terbesar dalam lima tahun terakhir. Rasanya, pasar masih diliputi kekhawatiran akan kelebihan stok, meski berbagai ketegangan geopolitik terus bergulir di berbagai belahan dunia.
Di meja perdagangan, Brent turun tipis 0,20 persen ke USD60,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) juga ikut melemah ke level USD57,32 per barel dengan persentase penurunan yang sama.
Lalu, di mana letak ketegangannya? Konflik Rusia-Ukraina, misalnya, belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di hari Tahun Baru, kedua pihak saling tuduh menyerang warga sipil. Uniknya, negosiasi yang didorong Presiden AS Donald Trump justru terus berjalan di tengah baku tembak. Kyiv pun dikabarkan semakin gencar menargetkan infrastruktur energi Rusia, sebuah langkah strategis untuk memotong aliran dana perang Moskow.
Namun begitu, pasar seolah mengabaikan semua berita panas itu. Phil Flynn, analis senior Price Futures Group, menyoroti hal ini.
"Yang menarik, reaksi pasar terhadap berita-berita geopolitik terasa sangat minimal. Harga seperti terjebak dalam sebuah kisaran yang sudah lama terbentuk. Intinya, banyak yang percaya pasokan akan tetap berlimpah, apapun yang terjadi di luar sana," ujarnya.
Tekanan juga datang dari Amerika Latin. Pemerintahan Trump memperketat sanksi terhadap Venezuela, menyasar empat perusahaan serta kapal tanker yang diduga masih berkutat di sektor minyak negara tersebut. Menanggapi hal ini, Presiden Nicolas Maduro justru membuka tangan.
Dalam wawancara Tahun Baru, Maduro menyatakan Venezuela terbuka untuk investasi AS di sektor energi. Dia bahkan menyebut kesediaan untuk berkoordinasi memberantas narkoba dan membuka dialog serius dengan Washington.
Belum selesai di sana, ancaman Trump juga mengudara ke Iran. Dia mengancam akan membantu para demonstran jika aparat keamanan negeri itu menembaki massa. Gelombang kerusuhan dalam negeri Iran sendiri disebut-sebut sebagai ancaman domestik terberat dalam beberapa tahun belakangan.
Di sisi lain, dinamika di kawasan produsen minyak juga tak kalah rumit. Krisis antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait Yaman semakin dalam, ditandai dengan dihentikannya penerbangan di Bandara Aden, Kamis lalu. Ini terjadi tepat sebelum pertemuan penting OPEC yang dijadwalkan pada Minggu.
Menurut June Goh, analis dari Sparta Commodities, sebagian besar pelaku pasar memperkirakan kelompok produsen ini akan mempertahankan jeda kenaikan produksi mereka di kuartal pertama.
"Tahun 2026 ini akan jadi tahun penentu untuk menilai seberapa efektif keputusan OPEC dalam menyeimbangkan pasar," katanya.
Goh juga menambahkan satu faktor penopang: permintaan dari China. Negeri Tirai Bambu itu diperkirakan akan terus membangun cadangan minyak mentahnya setidaknya hingga paruh pertama tahun ini, yang tentu bisa memberi sedikit napas bagi harga.
Memang, jika melihat ke belakang, catatan tahun 2025 cukup suram. Harga acuan Brent dan WTI masing-masing anjlok hampir 20 persen penurunan terdalam sejak pandemi 2020. Bagi Brent, ini adalah tahun ketiga berturut-turut harganya melemah, sebuah rekor panjang yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Priyanka Sachdeva, analis dari Phillip Nova, punya penjelasan untuk kondisi yang terasa datar ini. Menurutnya, pasar sedang berada dalam tarik-menarik klasik. Di satu sisi ada risiko geopolitik jangka pendek yang bisa memicu volatilitas, di sisi lain fundamental jangka panjang masih berbicara tentang satu hal: kelebihan pasokan yang belum teratasi.
Artikel Terkait
Trump Naikkan Tarif Global AS Jadi 15% Usai Putusan MA
Kadin Desak Prabowo Batalkan Rencana Impor 105.000 Mobil Pick-up dari India
Harga Emas Melonjak Didorong Perlambatan Ekonomi AS dan Ketidakpastian Kebijakan Trump
OJK Denda Influencer Saham Rp5,35 Miliar, Praktik Goreng Saham Berevolusi