Di sisi lain, dari Malaysia datang berita yang juga suram. Negeri penghasil sawit terbesar kedua dunia itu mencatatkan ekspor hanya 1,2 juta ton pada Desember. Itu artinya turun 5 persen dari bulan sebelumnya, berdasarkan pantauan data kargo AmSpec. Performa ekspor yang lunglai seperti ini langsung jadi sentimen negatif bagi pasar.
Menurut Gnanasekar Thiagarajan, Kepala Perdagangan dan Strategi Lindung Nilai di Kaleesuwari Intercontinental, lemahnya ekspor Malaysia memang memberi tekanan ekstra.
"Tapi, peluang pembelian di harga rendah mulai terlihat," katanya. "Pembelian dengan harga murah di pasar kelapa sawit diperkirakan akan terjadi, karena pembelian selama musim festival dapat menekan harga di bawah 4.000 ringgit per ton."
Gnanasekar punya alasan untuk optimis. Dia melihat permintaan yang biasanya melonjak jelang perayaan seperti Tahun Baru Imlek dan Ramadan pada Februari 2026 nanti berpotensi mengerek harga kembali naik. Jadi, setelah periode tekanan ini, mungkin ada angin segar yang menunggu.
Artikel Terkait
Investor Asing Borong Saham Tambang dan Kapal di Hari Pertama BEI 2026
Trump Tunda Kenaikan Tarif Furnitur, Tekanan Harga Pengaruhi Kebijakan
Emas Tembus USD 4.400, Perak dan Platinum Melaju Lebih Ganas di Awal 2026
Saham Bakrie Meledak di Awal 2026, DEWA Tembus Rekor Tertinggi