Demikian peringatan dari tim strategi Deutsche Bank, termasuk Jim Reid. Mereka mengingatkan agar kita semua tidak over-interpretasi.
Meski begitu, kekuatan utama tahun lalu yakni euforia pada saham-saham terkait kecerdasan buatan diperkirakan bakal kembali berperan tahun ini. Tren itu yang dulu mendorong indeks utama AS ke rekor tertinggi di 2025.
Stockton menambahkan analisisnya,
Memang, momentum kuat di akhir tahun 2025 sempat memudar. S&P 500, Nasdaq, dan Dow sama-sama anjlok dalam empat sesi terakhir. Ini agak mengecewakan, soalnya biasanya ada yang namanya "Santa Claus rally" yang bikin saham naik di lima hari terakhir Desember dan dua hari pertama Januari. Tahun ini, rally itu gagal muncul.
Beberapa lembaga lain juga menyuarakan kehati-hatian. Barclays, contohnya, memperingatkan bahwa pasar ekuitas bisa bergejolak di 2026 karena levelnya sudah tinggi dan terlalu bergantung pada kesuksesan AI. Tapi anehnya, di sisi lain, strategis mereka justru memprediksi kenaikan lebih lanjut sepanjang tahun, dengan alasan pendapatan perusahaan yang tangguh dan kondisi ekonomi yang dianggap seimbang.
Ke depan, semua mata tertuju ke kebijakan moneter AS. Ekspektasi akan sikap The Fed yang lebih lunak, didorong data ekonomi terbaru dan spekulasi soal kepemimpinan mereka, membuat pasar mulai memprediksi pemotongan suku bunga. Keputusan The Fed inilah yang nantinya akan menentukan arah aset global di tahun baru ini.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
Emas Tembus USD 4.400, Perak dan Platinum Melaju Lebih Ganas di Awal 2026
Saham Bakrie Meledak di Awal 2026, DEWA Tembus Rekor Tertinggi
Harga Emas Antam Anjlok Rp 16.000, Pajak Pembelian Diringankan
PNM Pacu Layanan Berbasis Empati, Fokus pada Pengalaman Nasabah di 2026