Wall Street membuka tahun 2026 dengan catatan hijau di sesi Jumat (2/1). Suasana pasar terbilang cukup optimis, meski ada beberapa catatan yang perlu diwaspadai. Saham-saham produsen chip, dengan Nvidia di garis terdepan, jadi salah satu motor penggeraknya.
Kalau dilihat dari angka, kenaikannya memang tak seragam. Dow Jones melonjak cukup signifikan, naik 0,7 persen atau setara 319 poin. Sementara itu, S&P 500 hanya naik tipis sekitar 0,2 persen. Nasdaq 100? Hampir datar saja penutupannya.
Di balik angka-angka itu, ceritanya jadi lebih menarik. Rally di sektor chip sempat terangkat oleh kinerja gemilang Nvidia dan Micron yang masing-masing naik lebih dari 1% dan bahkan 10%. Tapi, euforia ini nggak merata. Rupanya, saham-saham teknologi raksasa lain justru melemah. Microsoft dan Meta tercatat turun, dan itu cukup untuk menahan kenaikan yang lebih luas. Volume perdagangan yang rendah ikut memengaruhi, banyak pelaku pasar yang masih belum kembali dari liburan panjang.
Lalu ada cerita lain dari dunia otomotif listrik. Tesla mendapat tekanan cukup berat setelah mengumumkan laporan penjualan. Angkanya turun 16% di kuartal IV dibanding tahun sebelumnya. Permintaan yang lesu di pasar Eropa dan China disebut-sebut jadi penyebabnya.
Bukan cuma itu, posisinya sebagai raja penjualan kendaraan listrik dunia pun direbut. BYD asal China berhasil menyalip Tesla setelah mencatatkan lonjakan penjualan mobil bertenaga baterai hingga 28% sepanjang 2025.
"Rebound pagi ini dipimpin oleh saham teknologi berkapitalisasi besar,"
Begitu tulis Katie Stockton, pendiri Fairlead Strategies, dalam sebuah catatan paginya. Tapi dia juga memberikan peringatan. Menurutnya, kondisi jenuh beli dalam jangka pendek masih aktif, yang artinya risiko koreksi dalam beberapa hari ke depan tetap mengintai.
Nah, soal kondisi pasar secara keseluruhan, banyak yang bilang masih tipis. Partisipasi penuh investor baru kemungkinan terjadi awal pekan depan. Tapi, jangan buru-buru mengambil kesimpulan dari gerak-gerik hari pertama ini.
“Kita tidak boleh terlalu jauh melakukan ekstrapolasi. Soalnya, hari perdagangan pertama terbukti jadi panduan yang buruk untuk memprediksi pergerakan sepanjang tahun,”
Demikian peringatan dari tim strategi Deutsche Bank, termasuk Jim Reid. Mereka mengingatkan agar kita semua tidak over-interpretasi.
Meski begitu, kekuatan utama tahun lalu yakni euforia pada saham-saham terkait kecerdasan buatan diperkirakan bakal kembali berperan tahun ini. Tren itu yang dulu mendorong indeks utama AS ke rekor tertinggi di 2025.
Stockton menambahkan analisisnya,
"Tren relatif jangka panjang masih mendukung teknologi untuk 2026, meskipun untuk jangka menengah, trennya sudah terlihat melemah di kuartal pertama."
Memang, momentum kuat di akhir tahun 2025 sempat memudar. S&P 500, Nasdaq, dan Dow sama-sama anjlok dalam empat sesi terakhir. Ini agak mengecewakan, soalnya biasanya ada yang namanya "Santa Claus rally" yang bikin saham naik di lima hari terakhir Desember dan dua hari pertama Januari. Tahun ini, rally itu gagal muncul.
Beberapa lembaga lain juga menyuarakan kehati-hatian. Barclays, contohnya, memperingatkan bahwa pasar ekuitas bisa bergejolak di 2026 karena levelnya sudah tinggi dan terlalu bergantung pada kesuksesan AI. Tapi anehnya, di sisi lain, strategis mereka justru memprediksi kenaikan lebih lanjut sepanjang tahun, dengan alasan pendapatan perusahaan yang tangguh dan kondisi ekonomi yang dianggap seimbang.
Ke depan, semua mata tertuju ke kebijakan moneter AS. Ekspektasi akan sikap The Fed yang lebih lunak, didorong data ekonomi terbaru dan spekulasi soal kepemimpinan mereka, membuat pasar mulai memprediksi pemotongan suku bunga. Keputusan The Fed inilah yang nantinya akan menentukan arah aset global di tahun baru ini.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
Utang Luar Negeri Indonesia Capai USD 431,7 Miliar di Akhir 2025, Pemerintah Pastikan Pengelolaan Hati-hati
BEI Cabut Suspensi Perdagangan Lima Saham Usai Emiten Lunasi Kewajiban
Bank Mandiri Catat Laba Rp18,6 Triliun di Triwulan IV-2025, Melampaui Proyeksi Pasar
Ramadan Bukan Alasan Boros, Ini 5 Tips Kelola Keuangan