Minggu kemarin, berita seputar teguran untuk ratusan pengusaha beras jadi salah satu yang paling banyak dibaca. Satgas Pengendalian Harga Beras memang tak main-main, mereka sudah memberikan surat teguran kepada 987 pelaku usaha. Angkanya cukup signifikan, bukan?
Di sisi lain, ada juga kabar menarik dari negeri Tirai Bambu. Kereta cepat China berhasil memecahkan rekor lagi. Jaringan operasionalnya kini jadi yang terpanjang di dunia, menembus lebih dari 50.000 kilometer. Bayangkan, itu sekitar seperlima lebih panjang dari keliling bumi kita.
987 Pengusaha Beras Kena Teguran
I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, mengungkapkan capaian ini tak lepas dari kerja sama banyak pihak. Sinergi antara berbagai instansi dinilai kunci utamanya.
"Dalam dua bulan terakhir, pengawasan kami lakukan secara intensif ke semua lini. Tujuannya jelas, agar harga beras di tingkat konsumen bisa lebih terkendali. Sesuai arahan pimpinan, pemerintah harus mampu jadi pengendali harga, khususnya untuk komoditas beras," jelas Ketut, Minggu (28/12).
Pengawasan itu melibatkan banyak aktor: Bapanas, Polri, Kementan, Kemendag, pemda, sampai Perum Bulog. Upaya bersama ini, menurut Ketut, berhasil meredam harga beras medium dan premium di banyak Zona HET.
"Termasuk di Zona 3, harganya sudah turun. Tapi, kita masih perlu usaha ekstra agar bisa mendekati HET. Wilayahnya punya tantangan geografis tersendiri," tambahnya.
China Pecahkan Rekor Kereta Cepat
Mengutip AFP News, pembukaan jalur baru turut memperkuat posisi China sebagai pemilik jaringan kereta api terbesar di planet ini. Jaringannya yang super panjang itu memungkinkan warganya melakukan perjalanan jarak jauh dengan waktu yang singkat. Setiap hari, jarak tempuh kumulatifnya bisa mencapai 2.000 km!
Rute terbaru yang diresmikan menghubungkan Kota Xi'an lokasi terkenal Prajurit Terakota dengan Yan'an di utara. Keduanya ada di Provinsi Shaanxi, China Utara. Panjang jalurnya 299 km, tapi waktu tempuh tercepat cuma 68 menit. Cepat banget.
Kereta C9309 di rute ini bisa melesat hingga 350 km per jam. Kecepatan itu bahkan mengalahkan Shinkansen Jepang yang maksimal 320 km/jam. China Railway, perusahaan kereta api milik negara, menyebut jaringan mereka telah berkembang sekitar 32% sejak tahun 2020.
Namun begitu, di balik pembangunan yang masif itu ada cerita lain. Saat proyek dimulai pada 2020, pemerintah daerah setempat menyatakan perlu ada penggusuran rumah. Warga yang terdampak akhirnya mendapat kompensasi relokasi sebesar 5.000 yuan, atau sekitar 700 dolar AS, per rumah tangga.
Artikel Terkait
Rupiah Melemah ke Rp16.828 Didorong Tekanan Fiskal dan Data AS
Saham Indospring (INDS) Melonjak 21%, Riwayat Emiten Pegas Kendaraan Kembali Diingat
Nagita Slavina Masuk Sebagai Calon Pengendali Baru PT VISI, Saham Terkoreksi Tajam
Pemerintah Pangkas Kuota Produksi Batu Bara dan Nikel pada 2026