Namun begitu, bukan berarti semua sektor terpuruk. Sektor manufaktur, misalnya, masih bisa bernapas lega dengan pertumbuhan laba 5 persen sepanjang tahun ini. Pendorong utamanya datang dari industri berteknologi tinggi, seperti dirgantara dan produksi elektronik. Sektor utilitas juga menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan positif. Sayangnya, nasib sektor pertambangan masih jauh dari kata pulih, dengan penurunan laba yang mencapai dua digit.
Lalu, apa dampaknya? Penurunan laba yang lebih dalam ini berisiko menekan aktivitas investasi perusahaan. Bisa-bisa, perekrutan tenaga kerja ikut dikerem. Tapi anehnya, pemerintah tampaknya belum buru-buru bertindak. Stimulus tambahan belum juga digelontorkan. Rupanya, target pertumbuhan ekonomi tahunan sekitar 5 persen dinilai masih dalam jangkauan, jadi mereka memilih untuk menahan diri.
Ke depannya, jangan berharap banyak pada bantuan besar-besaran. Para ekonom memprediksi pelonggaran kebijakan moneter akan sangat terbatas. Dukungan fiskal tahun depan pun diperkirakan tak akan meluas. Sikap ini sejalan dengan kehati-hatian para pemimpin China terhadap stimulus, sebuah prinsip yang kembali ditegaskan dalam pertemuan kebijakan penting awal Desember ini. Mereka seperti sedang berjalan di tali, menyeimbangkan antara dukungan dan disiplin.
Artikel Terkait
Wall Street Dibayangi Ketegangan Iran, Minyak Melonjak di Atas $115
Pemerintah Targetkan Groundbreaking Rusun Bantaran Rel Senen Mei 2026
Laba Bersih ICBP Melonjak 30% Jadi Rp9,2 Triliun di Tengah Tekanan Biaya
Stok Beras Bulog Tembus Rekor 4,3 Juta Ton, Inflasi Berhasil Dikendalikan