JAKARTA Dunia miliarder lagi-lagi dihebohkan oleh wajah-wajah baru. Kali ini, mereka bukan hanya muda, tapi benar-benar masih belia. Usianya bahkan belum cukup untuk menyewa mobil di banyak negara. Tapi, mereka sudah punya kekayaan 10 digit dolar, hasil dari merintis bisnis sendiri dari nol.
Fenomenanya dimulai awal Oktober lalu. Saat itu, Intercontinental Exchange perusahaan induk Bursa Saham New York menggelontorkan dana segar 2 miliar dolar AS ke Polymarket. Investasi itu mendongkrak valuasi platform pasar prediksi itu jadi 9 miliar dolar. Seketika, pendirinya, Shayne Coplan yang baru 27 tahun, dinobatkan sebagai miliarder mandiri termuda di dunia.
Namun begitu, gelar itu cuma bertahan 20 hari. Posisi Coplan disalip oleh tiga pemuda berusia 22 tahun, pendiri startup AI Mercor. Mereka jadi miliarder mandiri termuda yang pernah ada, mengalahkan rekor Mark Zuckerberg dulu yang mencapainya di usia 23 tahun.
Yang lebih mencengangkan, gelombangnya tak berhenti di situ. Hanya dalam rentang November hingga Desember, tujuh pengusaha lain di bawah 30 tahun ikut menembus klub miliarder. Di antaranya ada mantan balerina asal Brasil, Luana Lopes Lara (29), yang kini memegang gelar miliarder perempuan mandiri termuda.
Menurut Forbes, ada ironi yang menarik di sini. Di tengah kekhawatiran bahwa AI bakal menghapus banyak pekerjaan entry-level, justru teknologi inilah yang melahirkan miliarder-miliarder baru dengan kecepatan luar biasa. Industri yang sepuluh tahun lalu belum signifikan, seperti pasar prediksi dan AI, sekarang jadi mesin pencetak kekayaan bagi para pengusaha muda.
Di sisi lain, tentu saja masih ada kelompok miliarder muda yang kekayaannya berasal dari warisan. Jumlahnya lebih banyak, 17 orang, dan terus bertambah. Yang termuda adalah Johannes von Baumbach, pewaris perusahaan farmasi Jerman yang baru berusia 20 tahun dengan kekayaan sekitar 5,8 miliar dolar.
Meski ledakan generasi muda ini menarik perhatian, mereka tetaplah pengecualian. Kelas miliarder secara global masih didominasi wajah-wajah sepuh. Rata-rata usianya 67 tahun. Bahkan, ada lebih dari 500 miliarder yang usianya di atas 80 tahun.
Nah, siapa saja sih para miliarder muda yang sukses merintis dari nol itu? Ini daftarnya.
1. Surya Midha (22 tahun)
Kekayaan bersih: 2,2 miliar dolar AS (sekitar Rp36,84 triliun).
Midha, bersama dua sahabat SMA-nya, menduduki tiga peringkat teratas. Mereka adalah penerima Beasiswa Thiel 2024 yang mendirikan Mercor, startup perekrutan AI, pada 2023. Perusahaan ini membantu laboratorium AI besar di Silicon Valley melatih model mereka.
Bulan Oktober lalu, investor swasta menilai Mercor yang berbasis di San Francisco itu seharga 10 miliar dolar. Valuasi itulah yang melambungkan ketiganya jadi miliarder termuda. Midha, yang jadi ketua, adalah yang paling muda selisih beberapa bulan dari rekannya.
2. Brendan Foody (22 tahun)
Kekayaan bersih: 2,2 miliar dolar AS.
3. Adarsh Hiremath (22 tahun)
Kekayaan bersih: 2,2 miliar dolar AS.
Foody dan Hiremath masing-masing menjabat sebagai CEO dan Kepala Teknologi Mercor.
4. Michael Truell (25 tahun)
Kekayaan bersih: 1,3 miliar dolar AS (sekitar Rp21,77 triliun).
Peringkat 4 sampai 7 diisi empat orang yang bertemu di MIT. Mereka mendirikan Cursor, startup pengkodean AI, pada 2022 di San Francisco.
Perangkat lunak editing kode buatan mereka dipakai jutaan pengembang di perusahaan macam Nvidia, Adobe, dan Uber. Pendapatan tahunannya tembus 1 miliar dolar. Tak heran, investor menilai Cursor mencapai 29,3 miliar dolar pada November lalu.
Truell yang jadi CEO ini ternyata satu SMA dengan Aman Sanger di New York.
5. Aman Sanger (25 tahun)
Kekayaan bersih: 1,3 miliar dolar AS.
6. Sualeh Asif (25 tahun)
Kekayaan bersih: 1,3 miliar dolar AS.
7. Arvid Lunnemark (26 tahun)
Kekayaan bersih: 1,3 miliar dolar AS.
8. Fabian Hedin (26 tahun)
Kekayaan bersih: 1,6 miliar dolar AS (sekitar Rp26,79 triliun).
Hedin meluncurkan Lovable, startup pemrograman AI, bersama Anton Osika pada November 2024. Ajaibnya, dalam delapan bulan saja, perusahaan ini sudah meraup pendapatan langganan 100 juta dolar per tahun. Itu membuatnya disebut-sebut sebagai startup perangkat lunak dengan pertumbuhan tercepat sepanjang masa.
Cara kerjanya unik: memakai AI agar orang yang bukan programmer bisa mengubah ide mereka langsung jadi situs web atau aplikasi. Hedin menjabat sebagai CTO, sementara valuasi Lovable mencapai 6,6 miliar dolar pada Desember.
9. Shayne Coplan (27 tahun)
Kekayaan bersih: 1 miliar dolar AS (sekitar Rp16,74 triliun).
Di awal pandemi 2020, mahasiswa drop out dari NYU ini mendirikan Polymarket. Platform pasar prediksi itu memungkinkan orang bertaruh pada banyak hal, dari hasil pemilu sampai pemenang penghargaan.
Jalannya mulus. Juli lalu mereka mengakuisisi bursa derivatif berlisensi, yang akhirnya membuka jalan bagi persetujuan operasi di AS pada November. Investasi besar-besaran dari Intercontinental Exchange di bulan Oktober pun mengukuhkannya, walau sesaat, sebagai miliarder mandiri termuda.
10. Alexandr Wang (28 tahun)
Kekayaan bersih: 3,2 miliar dolar AS (sekitar Rp53,59 triliun).
Wang adalah wajah lama di daftar ini. Dia mendirikan Scale AI, startup pelabelan data, pada 2016. Setelah sempat berselisih dengan rekan pendirinya, Lucy Guo, Wang tetap bertahan sebagai CEO.
Puncaknya terjadi Juni lalu, ketika Meta membeli 49% saham Scale dengan harga 14 miliar dolar. Wang pun bergabung ke Meta sebagai kepala petugas AI. Dia sebenarnya pernah memegang gelar miliarder termuda di 2022, lalu merebutnya kembali Mei 2024, sebelum akhirnya disalip Coplan.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 100 Poin Meski FTSE Russell Tunda Review Pasar Indonesia
KAI Logistik Optimalkan Keamanan Angkutan Bahan Berbahaya via Kereta Api
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.811 di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Tunggu Data Ekonomi Global
Indosat (ISAT) Catat Laba Bersih Rp5,5 Triliun di 2025, Tumbuh 12%