Tapi jangan terlalu cepat optimis. Secara tahunan, harga Brent dan WTI diproyeksikan masih akan anjlok sekitar 16% dan 18%. Itu adalah penurunan paling tajam sejak masa pandemi 2020 lalu. Penyebabnya klasik: pasokan diperkirakan bakal terus mengalahkan permintaan sepanjang tahun depan.
Nah, soal pasokan inilah yang sedang jadi perhatian. Gangguan ekspor dari Venezuela disebut-sebut sebagai faktor pendorong kenaikan yang paling signifikan. Situasi di Rusia dan Ukraina, yang saling serang infrastruktur energi, juga turut menyumbang tekanan pada pasar.
Di Venezuela, situasinya cukup mencekam. Lebih dari selusin kapal bermuatan kini masih tertambat, menunggu perintah baru dari pemiliknya. Ini terjadi setelah AS menyita kapal tanker Super Skipper awal bulan dan menarget dua kapal lagi akhir pekan kemarin.
Gangguan lain datang dari Kazakhstan. Pengiriman minyak melalui Caspian Pipeline Consortium (CPC) diprediksi bakal merosot sepertiga pada Desember ini level terendah sejak Oktober 2024. Dua sumber pasar menyebut, serangan drone Ukraina merusak fasilitas di terminal ekspor utama CPC.
Di sisi stok, laporan dari American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 2,39 juta barel pekan lalu. Stok bensin dan distilat juga ikut membengkak.
Data inventaris resmi dari pemerintah AS biasanya jadi patokan berikutnya. Namun, karena libur Natal, rilis dari Badan Informasi Energi AS ini baru akan keluar pada hari Senin lebih lambat dari jadwal biasa.
Jadi, pasar seperti sedang menarik napas sejenak. Menunggu arahan lebih jelas, di tengah gejolak data ekonomi dan ketegangan geopolitik yang belum juga reda.
Artikel Terkait
ABM Investama Fokus Optimalisasi Dua Tambang Andalan di Aceh dan Kalteng
Kemenhub Siaga Penuh Antisipasi Puncak Arus Balik 28-29 Maret 2026
IHSG Melemah Tipis, Transaksi Harian Justru Naik 15% Pasca-Lebaran
IHSG Melemah Meski Transaksi Melesat, Aksi Jual Asing Capai Rp22,37 Triliun