Minyak Tak Lagi Satu-satunya: Timur Tengah Gencar Bangun Pilar Ekonomi Baru

- Rabu, 24 Desember 2025 | 04:06 WIB
Minyak Tak Lagi Satu-satunya: Timur Tengah Gencar Bangun Pilar Ekonomi Baru

Sebut saja Timur Tengah, dan yang langsung terbayang pastilah lautan minyak. Memang, kenyataannya begitu. Lebih dari separuh cadangan minyak mentah dunia tersimpan di perut bumi kawasan itu. Data OPEC tahun 2022 menyebutkan, dari total 1,56 triliun barel cadangan global, sekitar 55,7% di antaranya dikuasai oleh negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan tetangganya.

Kekayaan ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memberi kekuatan ekonomi yang luar biasa, menjadikan mereka raja-raja energi dunia. Namun di sisi lain, ketergantungan yang hampir mutlak pada satu komoditas ini rentan membuat goncangan. Lihat saja beberapa tahun terakhir, pendapatan dari minyak begitu fluktuatif. Itulah mengapa diversifikasi ekonomi bukan lagi sekadar wacana, tapi sebuah keharusan.

Ambil contoh pandemi COVID-19 yang melambatkan ekonomi global, termasuk sektor minyak. Lalu, di tahun 2022, invasi Rusia ke Ukraina mendorong harga minyak melonjak dan ekonomi kawasan ini pun melesat. Tapi keadaan berbalik di 2023. Pemotongan produksi berturut-turut oleh OPEC membuat harga anjlok ke level US$ 83 per barel, jauh dari angka US$ 100 di tahun sebelumnya.

Fluktuasi tajam inilah yang mendorong banyak negara di sana mencari pijakan ekonomi baru. Mereka mulai merambah ekspor non-minyak. Laporan OIC Economy Outlook 2025 mencatat, beberapa negara Timur Tengah mulai mengekspor produk lain ke Amerika Serikat, meski porsinya masih kalah dibanding eksportir utama dari Asia.

Malaysia masih yang terbesar dengan nilai ekspor mencapai US$ 53,8 miliar pada 2024. Disusul Indonesia dan Turki. Barulah kemudian muncul nama-nama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Irak dalam daftar itu.

Produk yang mereka kirimkan pun beragam, mulai dari mesin listrik, pakaian, peralatan medis, hingga furnitur. Ini menunjukkan sebuah pergeseran, betapa lambat laun mereka tak ingin lagi menggantungkan nasib hanya pada satu sektor.

Upaya ini penting, apalagi kondisi geopolitik kawasan yang kerap memanas seperti ketegangan di Gaza selalu punya dampak riil pada pertumbuhan ekonomi. Membangun pilar ekonomi lain menjadi cara untuk bertahan di tengah badai yang sulit ditebak.

Saudi Vision 2030: Lari Kencang Menuju Masa Depan

Arab Saudi mungkin jadi contoh paling ambisius. Lewat Vision 2030, Kerajaan ini melakukan transformasi ekonomi besar-besaran. Fokusnya jelas: keluar dari bayang-bayang minyak. Sektor-sektor seperti manufaktur, teknologi, pariwisata, dan logistik digenjot habis-habisan.

Di bidang logistik, posisi geografisnya yang strategis dimanfaatkan maksimal. Hasilnya nyata. Peringkat Saudi dalam penanganan kontainer menurut Lloyd’s List melesat dari posisi 24 ke 16. Indeks Kinerja Logistik Bank Dunia mereka juga naik signifikan.

Sementara di manufaktur, pembukaan pabrik kendaraan listrik canggih Lucid Group di Rabigh menjadi semacam pernyataan. Mereka serius ingin jadi pemain di industri masa depan. Investasi besar, lapangan kerja baru, dan transfer teknologi adalah imbasnya.

Pariwisata juga tak ketinggalan. Destinasi seperti AlUla dan Diriyah yang kaya warisan budaya dikemas modern, menarik wisatawan domestik maupun internasional. Kontribusi sektor ini terhadap PDB Saudi pada 2023 mencapai 4,45% angka yang terus diharapkan membesar.

Qatar 2030: Strategi dengan Sentuhan Budaya

Qatar tak mau kalah. The Third National Development Strategy (NDS3) mereka adalah peta jalan menuju Qatar National Vision 2030. Strateginya tak hanya soal angka pertumbuhan, tapi juga berusaha menjaga nilai-nilai agama, budaya, dan identitas nasional dalam prosesnya.

Mereka ingin warganya merasa dihargai dan ikut serta dalam pembangunan.

Logistik menjadi salah satu klaster andalan, dengan fokus pada barang bernilai tinggi seperti suku cadang pesawat dan produk farmasi. Operasi pelabuhan mereka dioptimalkan dengan teknologi mutakhir.

Klaster manufaktur juga dikembangkan, khususnya di sektor kimia dan logam rendah karbon, dengan mengadopsi prinsip-prinsip Revolusi Industri 4.0.

Sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, Qatar sudah membuktikan diri di sektor pariwisata dan acara berskala global. Mereka terus membangun citra sebagai destinasi keluarga yang unik, didukung konektivitas udara Qatar Airways yang luar biasa. Kontribusi pariwisata terhadap PDB mereka pada 2024 diproyeksikan mencapai 8%.

Uni Emirat Arab: Melampaui Batas Bumi

UAE sudah lama melangkah lebih jauh. Visi 2031 mereka mendorong diversifikasi ke sektor-sektor yang benar-benar futuristik. Inovasi, teknologi, dan energi terbarukan jadi kata kunci.

Pariwisata dan perhotelan tetap andalan, dengan Dubai dan Abu Dhabi sebagai magnet utama. Tapi yang menarik perhatian dunia adalah ambisi mereka di sektor antariksa.

UAE Space Agency dan misi eksplorasi antarplanetnya bukan sekadar pencitraan. Ini adalah strategi jangka panjang untuk membangun ekonomi berbasis pengetahuan dan masyarakat ilmiah yang mandiri. Mereka ingin berkontribusi pada teknologi luar angkasa yang bermanfaat bagi umat manusia.

Pada akhirnya, diversifikasi ekonomi bagi Timur Tengah adalah soal ketahanan. Ini jalan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gejolak harganya, sekaligus membangun kedaulatan ekonomi.

Yang juga menarik, banyak dari strategi ini mulai mengintegrasikan prinsip-prinsip ekonomi syariah. Tujuannya jelas: membangun ekosistem bisnis yang inklusif, mengembangkan industri halal kreatif, dan menciptakan pertumbuhan yang tak hanya kuat, tapi juga berkelanjutan dan sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut. Masa depan ekonomi kawasan ini, tampaknya, tak lagi berwarna hitam emas semata.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar