Menurut catatan Ritterbusch and Associates, serangan di Laut Hitam itu memang jadi pendorong signifikan kenaikan harga. Namun begitu, mereka memperkirakan pasar akan bergerak dalam fase konsolidasi sepanjang minggu ini. Volume transaksi cenderung menurun karena periode liburan.
Jadi, situasinya memang tarik-ulur. Di satu sisi, fundamental minyak sebenarnya lagi tidak terlalu kuat. Tapi di sisi lain, premi risiko geopolitik dari konflik Ukraina-Rusia plus ketegangan dengan Venezuela, tetap harus diperhitungkan. Pasar seperti terjebak di antara dua narasi ini.
Ada perkembangan lain dari meja perundingan. Utusan khusus AS, Steve Witkoff, menyebut pertemuan selama tiga hari di Florida antara pejabat AS, Eropa, dan Ukraina berlangsung produktif. Fokusnya adalah menyelaraskan posisi untuk mengakhiri perang.
Pembicaraan terpisah dengan negosiator Rusia juga disebutkan berjalan.
Tapi, jangan berharap terlalu dulu. Penasihat utama Putin untuk kebijakan luar negeri punya nada yang berbeda. Menurutnya, perubahan yang diusulkan Eropa dan Ukraina terhadap proposal AS belum cukup untuk membuka jalan menuju perdamaian. Jadi, meski ada dialog, jalan ke sana masih terjal.
Nah, dalam kondisi seperti inilah harga minyak bergerak. Sentimen ketakutan akan pasokan yang terganggu, untuk sementara, masih mampu mendorong harga naik meski di tengah ketidakpastian yang begitu pekat.
Artikel Terkait
Laba Bersih Amman Mineral Anjlok 60% di Tengah Masa Transisi Operasional
Laba Bersih Chandra Asri Melonjak 2.662% Jadi Rp 23,8 Triliun pada 2025
IHSG Berbalik Anjlok 1,21% di Sesi I, Sektor Energi dan Industri Tertekan
Laba Bersih DGWG Tembus Rp218,85 Miliar di 2025, Didongkrak Pendapatan Rekor