Dolar AS Terancam Terus Melemah, Ini Pemicu Utamanya

- Senin, 22 Desember 2025 | 23:00 WIB
Dolar AS Terancam Terus Melemah, Ini Pemicu Utamanya

Kalau melihat grafiknya, tahun ini memang bukan tahun yang bagus untuk dolar AS. Mata uang itu anjlok hampir 10 persen, catatan terburuk dalam delapan tahun terakhir. Tapi, di balik suramnya performa itu, ada tanda-tanda stabilisasi. Nah, yang menarik justru ramalan banyak pelaku pasar: pelemahan ini kemungkinan besar akan berlanjut di 2026.

Penyebabnya? Beberapa faktor. Ekspektasi pemotongan suku bunga oleh The Fed masih menggantung. Selisih suku bunga AS dengan negara lain semakin menipis. Belum lagi kekhawatiran soal defisit fiskal dan situasi politik dalam negeri yang masih berpotensi bikin dag-dig-dug.

"Faktanya, dolar AS masih terlalu mahal dari sudut pandang fundamental," kata Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Corpay.

Pernyataan Schamotta itu dilontarkan Senin lalu, dan cukup menggambarkan sentimen pasar. Menentukan arah dolar jadi hal krusial bagi investor, mengingat perannya yang sentral dalam sistem keuangan global. Di sisi lain, dolar yang lebih lemah sebenarnya punya efek samping positif: ia bisa mendongkrak laba perusahaan multinasional AS karena nilai pendapatan luar negeri mereka jadi lebih besar saat dikonversi kembali.

Memang, dalam beberapa bulan terakhir dolar sempat bernapas lega dengan penguatan hampir 2 persen sejak September. Tapi, jangan terkecoh. Survei Reuters akhir November menunjukkan, para ahli strategi valas umumnya tetap mempertahankan proyeksi dolar yang lebih lemah untuk tahun depan.

Data dari Bank for International Settlements (BIS) pun menguatkan pandangan itu. Nilai tukar riil dolar pada Oktober masih berada di level 108,7. Angka itu hanya turun sedikit dari rekor tertingginya di Januari lalu, yang berarti dolar masih dianggap overvalued.

Lalu, apa yang akan mendorong pelemahan berkelanjutan? Konvergensi pertumbuhan global. Keunggulan pertumbuhan AS diperkirakan bakal menyusut karena negara-negara besar lain mulai bangkit.

"Saya pikir yang berbeda kali ini adalah negara-negara lain di dunia akan tumbuh lebih cepat tahun depan," ujar Anujeet Sareen dari Brandywine Global.

Stimulus fiskal Jerman, dukungan kebijakan dari China, serta prospek yang membaik di zona euro semua itu diyakini akan mengurangi premi pertumbuhan AS yang selama ini jadi penyangga utama dolar. Intinya, ketika ekonomi lain membaik, dolar cenderung melemah.

"Ketika negara-negara lain mulai menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik, itu mendukung pelemahan dolar yang berkelanjutan," tambah Paresh Upadhyaya dari Amundi.

Bahkan investor yang optimis sekalipun mengakui, tekanan apa pun terhadap pertumbuhan AS bisa langsung membebani mata uang tersebut.

Peran Krusial Bank Sentral

Di sini, perbedaan kebijakan bank sentral akan jadi penentu. Ekspektasi bahwa The Fed akan terus memotong suku bunga, sementara bank sentral lain seperti ECB mungkin bertahan atau bahkan menaikkan, jelas berpotensi menekan dolar lebih dalam.

Faktor kepemimpinan The Fed juga jadi bahan perhitungan. Jerome Powell akan mundur, memberi Presiden Trump kesempatan menunjuk ketua baru. Pasar sudah mulai mematok ekspektasi kebijakan yang lebih akomodatif, seiring dorongan Trump untuk suku bunga rendah. Beberapa nama yang beredar seperti Kevin Hassett, Kevin Warsh, atau Chris Waller memang dikenal memiliki pandangan yang cenderung dovish.

Sementara itu, ECB diperkirakan akan menahan suku bunga tahun depan, meski opsi kenaikan belum sepenuhnya ditutup. Mereka baru saja merevisi naik proyeksi pertumbuhan dan inflasi, yang menunjukkan ketahanan ekonomi zona euro.

Proyeksi Bisa Berbalik Arah

Meski pandangan jangka panjang mengarah pada pelemahan, investor tetap waspada. Penguatan jangka pendek masih sangat mungkin terjadi. Antusiasme berlebihan terhadap teknologi kecerdasan buatan, misalnya, bisa menarik arus modal ke saham AS dan menopang dolar untuk sementara.

Faktor domestik AS juga berperan. Dibukanya kembali pemerintahan setelah penutupan dan pemotongan pajak yang sudah disahkan tahun ini, berpotensi memberi dorongan pada kuartal pertama 2026. Jadi, meski trennya turun, perjalanan dolar tahun depan dipastikan tidak akan mulus. Akan ada gejolak, dan itu yang dinanti-nanti serta diwaspadai oleh pasar.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar