Menurut Perry, langkah ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengar ketidakpastian global yang masih membayangi. Di sisi lain, BI juga ingin memastikan kebijakan pelonggaran moneter sebelumnya tetap efektif mendorong perekonomian.
Lalu, apa prospek ke depannya? Perry memberi sinyal yang cukup jelas.
"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga BI rate lebih lanjut dengan perkiraan inflasi 2026 yang terkendali," tambahnya.
Jadi, pintu untuk penurunan suku bunga di masa mendatang masih terbuka, asalkan inflasi tetap terkendali. Sebelum periode 'tahan' ini, BI sebenarnya cukup agresif. Mereka telah memangkas suku bunga sebanyak 150 basis poin dalam setahun, dari September 2024 hingga September 2025, sebagai stimulus untuk pertumbuhan ekonomi.
Nah, kembali ke pasar. Dengan sinyal yang kini lebih jelas dari BI, tampaknya pergerakan selektif saham perbankan seperti hari ini mungkin akan lebih sering kita lihat. Investor tampaknya sedang kembali ke meja riset, menganalisa satu per satu laporan dan prospek tiap bank, ketimbang sekadar bereaksi terhadap headline kebijakan sentral semata.
Perlu diingat, keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan Anda.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak