Banjir Sumatera Ganggu Distribusi, Ancaman Krisis Logistik Mengintai

- Senin, 08 Desember 2025 | 04:06 WIB
Banjir Sumatera Ganggu Distribusi, Ancaman Krisis Logistik Mengintai
Banjir Sumatera Ancam Rantai Pasok, Kadin Khawatir

Banjir besar yang merendam sejumlah wilayah di Sumatera tak cuma soal genangan air. Kini, kekhawatiran mulai merambat ke kalangan pelaku usaha. Ancaman gangguan logistik mulai terlihat, dan dampaknya bisa menjalar ke mana-mana dari industri besar hingga kebutuhan sehari-hari warga.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, angkat bicara. Menurutnya, situasi ini cukup pelik. Yang paling bikin waswas adalah soal pasokan bahan baku industri, yang mayoritas masih mengandalkan transportasi darat.

“Tentu yang sangat dikhawatirkan adalah pasokan bahan baku industri yang logistiknya melalui jalur darat,”

ujar Sarman kepada media, Minggu (7/12).

Kalau banjir terus berlanjut dan akses jalan belum normal, ya sudah. Industri bisa mandek karena bahan baku tak kunjung datang.

Masalahnya nggak cuma di situ. Di sisi lain, ada risiko lain yang mengintai: pasokan bahan pokok pangan. Apalagi kita sedang menyambut libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Gangguan distribusi BBM juga patut diwaspadai. Bayangkan saja, antrean panjang di SPBU bisa langsung menghambat mobilitas dan pengiriman barang antarwilayah.

Sarman punya harapan besar pada pemerintah. Dia mendorong agar perbaikan infrastruktur logistik, khususnya jalur darat, segera dilakukan. Jalan itu kan nadi distribusi barang.

“Terutama daerah-daerah yang sebentar lagi merayakan Natal, pasokan bahan pokok pangan agar dipastikan lancar sehingga tidak memicu kenaikan harga,”

tegasnya.

Untuk saat ini, kabar baiknya adalah belum ada laporan serius dari pabrik-pabrik soal gangguan produksi. Tapi jangan salah, kondisi ini tetap rentan. Dampak banjir kan luas, efek berantainya bisa tiba-tiba muncul.

Lalu, soal kerugian? Angka pastinya masih gelap. Belum ada sumber resmi yang bisa memberikan hitungan yang akurat.

“Sampai saat ini belum ada sumber yang bisa menghitung kerugian, yang pastinya sangat besar. Baik kerugian infrastruktur maupun harta benda masyarakat seperti rumah, kendaraan, lahan sawah dan kebun serta tempat usaha pelaku UMKM,”

pungkas Sarman.

Jadi, meski air mungkin mulai surut, gelombang masalah ekonominya bisa saja baru akan datang.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar