Pada waktu itu, kebijakan yang diambil adalah membangun ekosistem dengan serius.
“Kami memberikan prioritas pada pembangunan ekosistem dengan melibatkan pemerintah daerah, Bumdes, Pemerintah Desa, dan sekolah-sekolah di wilayah Kulon Progo.
Dengan cara ini, kami dapat terus berkembang, namun tetap dengan penuh kehati-hatian, atau dapat disebut sebagai pertumbuhan moderat,” ungkap Joko Purnomo yang didampingi Direktur Kepatuhan dan Umum, Suraja SE, serta Direktur Bisnis Rita Purwanti EW kepada Radar Jogja.
Dari pengalaman tersebut, sejak pandemi Covid-19, Bank Kulon Progo memutuskan untuk terus maju, namun dengan sikap yang tidak berlebihan.
Joko, panggilan akrab Direktur Utama, memutuskan untuk menerapkan kebijakan pertumbuhan moderat dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian.
Melalui pendekatan tersebut, Bank Kulon Progo berhasil tetap mendapatkan keuntungan hingga saat ini.
“Kami menjalin kerja sama dengan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tingkat kabupaten, mitra dari berbagai perusahaan, lembaga, sekolah-sekolah, Bumdes, dan pemerintah Kalurahan se Kabupaten Kulon Progo. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan asosiasi-asosiasi pengusaha, seperti Gapensi, Gapeknas, Gapeksindo, dan lain-lain. Kami juga menyalurkan sebagian termin proyek Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Oleh karena itu, kami juga bekerja sama dengan asosiasi kontraktor untuk menyediakan kredit modal kerja dalam pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur,” ungkapnya.
Bank Kulon Progo juga mengembangkan program tabungan khusus untuk pelajar, yaitu Tabunganku dan Simpanan Pelajar (Simpel).
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: radarjogja.jawapos.com
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak