Meijaty Jawidjaja memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Direktur Utama PT Omni Inovasi Indonesia Tbk (TELE). Pengunduran dirinya ini menandai babak baru bagi perusahaan yang sedang menghadapi tantangan berat.
Sebelumnya, Meijaty sudah cukup lama berkecimpung di TELE. Dia pernah menduduki posisi Direktur Keuangan selama sembilan tahun, dari 2012 hingga 2021. Kemudian, di tahun 2024, dia mengambil alih kursi direktur utama yang ditinggalkan Tan Lie Pin.
Menurut keterangan resmi yang dirilis manajemen, pengunduran diri Meijaty ini baru akan berlaku efektif setelah ada perubahan susunan pengurus dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Di sisi lain, perusahaan memastikan bahwa langkah ini tidak akan berdampak material terhadap operasional, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha mereka.
Tapi di balik itu, kondisi keuangan TELE ternyata tidak begitu cerah. Hingga kuartal ketiga 2025, perusahaan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp37,3 miliar. Angka ini melonjak sekitar 50 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya Rp18,87 miliar.
Yang bikin runyam, pendapatannya juga merosot. Dari sebelumnya Rp1,46 triliun, kini tinggal Rp1,86 triliun. Bisa dibilang, situasinya makin pelik.
Belum lagi masalah di Bursa Efek Indonesia. Saham TELE sudah disuspensi sejak 27 Juni 2023, lantaran perusahaan gagal bayar obligasi. Keadaan makin runyam setelah pengadilan menyatakan TELE pailit pada 9 Oktober 2025.
Kemudian, suspensi diperpanjang lagi pada 7 November 2025. BEI menerima salinan putusan kepailitan itu, dan akhirnya memberi notasi BEDLX pada saham TELE. Bisa dibilang, jalan yang harus ditempuh perusahaan ini masih panjang dan berliku.
(DESI ANGRIANI)
Artikel Terkait
Metland Targetkan Marketing Sales Rp2 Triliun pada 2026
Hong Kong Salip Swiss sebagai Pusat Kekayaan Lintas Batas Terbesar Dunia
Metland Bagikan Dividen Rp74,2 Miliar dari Laba 2025, Setara Rp9,7 per Saham
PT Daaz Bara Lestari Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tak Berdampak Material pada Kinerja