Di sisi lain, tidak semua saham bernasib baik. Target, misalnya, harus merasakan tekanan cukup berat. Saham ritel ini merosot setelah melaporkan penjualan kuartalan yang jauh lebih buruk dari perkiraan. Rupanya, konsumen AS yang lagi ketat anggarannya mulai mengurangi belanja untuk barang-barang yang tidak terlalu penting.
Masalah lainnya datang dari sisi ketenagakerjaan. Kekhawatiran tentang pasar kerja yang mendingin masih terus berlanjut, apalagi dengan jadwal rilis data yang agak kacau karena shutdown pemerintah AS sebelumnya. Menanggapi situasi ini, Biro Statistik Tenaga Kerja AS memutuskan untuk tidak menerbitkan laporan ketenagakerjaan Oktober secara terpisah. Mereka akan menggabungkan datanya dengan laporan periode November nanti.
Jadi, meski hari ini hijau, jalan ke depan masih penwith ketidakpastian. Semuanya sekarang tergantung pada laporan Nvidia dan bagaimana pasar menanggapi hasilnya besok.
Artikel Terkait
Pasar Modal Indonesia Pecahkan Rekor: Investor Tembus 20 Juta, Likuiditas Didominasi Ritel
OWK PACK Picu Saham Melonjak, Sentuh ARA Keenam Hari Berturut-turut
Astra Lanjutkan Bantuan Tahap Kedua untuk Korban Banjir Bandang Sumatra
OJK Pastikan Stabilitas Sektor Keuangan Nasional Bertahan Hingga 2025