Prospek Suku Bunga The Fed Desember 2025: Hawkish vs Dovish
Federal Reserve (The Fed) kembali menjadi sorotan seiring dengan pernyataan sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat yang mengungkapkan kekhawatiran terhadap laju inflasi. Situasi ini muncul bersamaan dengan rencana pemerintah AS untuk merilis data ekonomi yang sempat tertunda.
Di tengah perdebatan internal, pejabat The Fed yang berpandangan dovish menilai kondisi ekonomi terkini masih mendukung pelonggaran moneter melalui pemotongan suku bunga pada Desember 2025.
Ekspektasi Pasar Keuangan Terhadap Suku Bunga The Fed
Sentimen pasar keuangan mengalami pergeseran signifikan. Kontrak berjangka suku bunga jangka pendek menunjukkan perubahan ekspektasi, dengan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Desember kini mencapai sekitar 60 persen.
Angka ini meningkat drastis dari level 50:50 yang tercatat sehari sebelumnya. Padahal, sejak keputusan suku bunga Oktober, ekspektasi pasar cenderung kuat mengarah pada pemangkasan suku bunga.
Pandangan Berbeda di Kalangan Pejabat The Fed
Perdebatan kebijakan moneter The Fed memanas dengan hadirnya pandangan yang saling bertolak belakang di antara para pembuat kebijakan.
Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menyatakan keraguan terhadap perlunya aksi kebijakan moneter lebih lanjut. Pernyataan serupa disampaikan Presiden Fed Dallas Lorie Logan yang menekankan pentingnya bukti kuat penurunan inflasi sebelum mempertimbangkan pemotongan suku bunga.
Dari kubu sebaliknya, Gubernur Fed Stephen Miran secara konsisten mengadvokasi perlunya pemangkasan suku bunga tambahan. Pandangan ini selaras dengan posisi Presiden Donald Trump yang menilai tingkat suku bunga saat ini terlalu tinggi.
Faktor Penentu Kebijakan The Fed Desember Mendatang
Keputusan The Fed pada pertemuan 9-10 Desember 2025 diprediksi akan sangat bergantung pada dua faktor kunci:
Pertama, ketersediaan data ekonomi terbaru yang selama ini tertunda. Data-data ini diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai kondisi riil perekonomian AS.
Kedua, perkembangan pandangan dari pejabat The Fed lainnya, termasuk Gubernur Christopher Waller yang dikenal berpengaruh dan cenderung dovish.
Dengan ketidakpastian yang masih menyelimuti, pasar keuangan global diprediksi akan terus memantau setiap perkembangan terkait kebijakan moneter The Fed dalam minggu-minggu mendatang.
Artikel Terkait
AMOR Cairkan Dividen Interim Tahap II Rp28,6 Miliar, Yield 3,51%
BLUE Konfirmasi Akuisisi 80% Saham oleh Perusahaan Tambang Hong Kong
ASLC Bidik Pertumbuhan Dua Digit dengan Andalkan Mobil Bekas Jelang Mudik 2026
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan