Proyeksi Harga Aluminium Global dan Strategi Inovasi Hijau PT Inalum
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) memperkirakan harga aluminium di pasar global akan kembali ke tingkat yang normal pada tahun depan. Harga diproyeksikan stabil di kisaran USD 2.600 hingga USD 2.700 per ton. Menurut perusahaan, harga saat ini yang lebih tinggi didorong oleh kondisi eksternal yang bersifat tidak biasa atau anomali.
Direktur Pengembangan Usaha Inalum, Arif Haendra, menjelaskan bahwa kenaikan harga saat ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti lonjakan harga tembaga. Dia menyatakan bahwa ketika kondisi pasar kembali normal, harga aluminium diperkirakan akan berada dalam rentang yang telah disebutkan.
Arif juga membeberkan bahwa harga aluminium yang berada di atas level proyeksi, seperti pada angka USD 2.800 per ton, akan memberikan dampak positif langsung terhadap kinerja keuangan Inalum. Setiap kenaikan harga dari level proyeksi normal dapat memberikan tambahan margin keuntungan sekitar 5 persen, asalkan biaya variabel operasional perusahaan tetap stabil.
Komitmen Inovasi untuk Industri Hijau yang Berkelanjutan
Di sisi lain, Inalum secara aktif mendorong transformasi menuju operasi industri yang lebih hijau dan berkelanjutan. Salah satu wujud nyata komitmen ini adalah penyelenggaraan Technology Innovation Seminar (TIS) 2025. Acara ini mengusung tema "Sharpening Competitiveness for a Sustainable and Green Smelter".
Artikel Terkait
BEI Bidik Peringkat 10 Besar Global, Targetkan Transaksi Harian Rp 15 Triliun
Operasional Vale Terhenti, Sahamnya Malah Meroket
600 Huntara Siap Huni di Aceh Tamiang, Target 15.000 Unit dalam Tiga Bulan
IHSG Sentuh 8.680 di Pembukaan Perdagangan Awal 2026