Kilatan Cahaya Langka di Bulan: Astronom Jepang Rekam Dua Hantaman Meteor
Seorang astronom profesional dari Jepang berhasil mengabadikan momen langka, yaitu dua kali kilatan cahaya di permukaan Bulan yang diduga kuat berasal dari hantaman meteor. Peristiwa luar biasa ini terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat, hanya dua hari.
Daichi Fujii, seorang kurator di Museum Kota Hiratsuka yang berpengalaman dalam mengamati fenomena antariksa, merupakan orang di balik penemuan ini. Ia telah beberapa kali mendokumentasikan kejadian meteor menghantam Bulan, namun rekaman dua kilatan berurutan ini tergolong istimewa.
Waktu dan Tanggal Kejadian Terekam
Kilatan cahaya pertama berhasil terekam pada hari Kamis, 30 Oktober 2025, tepatnya pukul 20.33 waktu setempat Jepang. Melalui teleskopnya yang mengarah ke area gelap Bulan, Fujii menangkap sebuah kilatan singkat yang menjadi penanda tumbukan meteor.
Kilatan kedua kemudian muncul dua hari setelahnya, pada Sabtu, 1 November 2025, pukul 20.49 waktu Jepang. Sekali lagi, sebuah meteor diduga menghantam permukaan Bulan secara langsung dan menciptakan cahaya yang terekam kamera.
Mengapa Hantaman Meteor di Bulan Menghasilkan Kilatan?
Fenomena ini terjadi karena perbedaan fundamental antara Bumi dan Bulan. Saat meteor memasuki atmosfer Bumi, gesekan akan membakar sebagian besar batuan luar angkasa tersebut. Berbeda dengan Bulan yang tidak memiliki atmosfer pelindung sama sekali. Akibatnya, setiap batuan angkasa yang mendekat akan langsung menabrak permukaannya dengan kecepatan luar biasa, mencapai 27 kilometer per detik atau setara 97.000 km/jam.
Tabrakan berkecepatan tinggi inilah yang melepaskan energi sangat besar, menghasilkan kilatan cahaya terang sesaat. Kilatan ini memiliki intensitas yang cukup untuk diamati dari Bumi dengan menggunakan teleskop yang tepat, persis seperti yang berhasil dilakukan oleh Fujii.
Bulan dan Risiko Hantaman Benda Langit
Permukaan Bulan yang dipenuhi dengan kawah adalah bukti visual nyata dari sejarah panjangnya menjadi sasaran hantaman benda langit. Berdasarkan perhitungan para ahli astronomi, frekuensi tumbukan asteroid di Bulan bahkan diperkirakan 20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan di Bumi.
Keterkaitan dengan Hujan Meteor Taurid
Daichi Fujii memiliki hipotesis bahwa kedua meteor tersebut mungkin merupakan bagian dari hujan meteor Taurid yang sedang aktif. Hujan meteor ini memiliki dua cabang, yaitu Taurid Utara dan Taurid Selatan.
Yang menarik, Taurid Selatan yang sering dijuluki "Halloween Fireballs" mencapai puncak aktivitasnya sekitar tanggal 2 November. Waktu kejadian yang berdekatan ini memperkuat kemungkinan bahwa hantaman meteor di Bulan berasal dari rombongan Taurid.
Meski demikian, Fujii juga menyatakan kemungkinan lain, yaitu bahwa meteor-meteor itu bisa jadi merupakan pecahan komet yang tidak terkait dengan hujan meteor Taurid.
Signifikansi Ilmiah Penemuan Ini
Dokumentasi seperti yang dilakukan Fujii memiliki nilai ilmiah yang sangat penting. Dengan mempelajari frekuensi dan karakteristik hantaman meteor di Bulan, para ilmuwan dapat:
- Mengevaluasi tingkat risiko yang akan dihadapi oleh astronot pada misi eksplorasi atau permukiman Bulan di masa depan.
- Memetakan perubahan frekuensi tumbukan benda langit dalam tata surya seiring waktu, yang crucial untuk memahami evolusi permukaan Bulan dan Bumi.
Artikel Terkait
Cara Nonaktifkan Suara Jepretan Kamera iPhone Sesuai Model
Domain AI.com Terjual Rp1,1 Triliun, Pecahkan Rekor Termahal Sepanjang Sejarah
Koktail Berasap Berujung Tragis, Lambung Pria Ini Pecah Usai Teguk Nitrogen Cair
Petrichor: Aroma Hujan yang Menenangkan Pikiran dan Mengembalikan Keseimbangan