Karnaval Hingga Subuh di Mojokerto Tuai Protes, Dana Tembus Rp1,6 Miliar

- Selasa, 17 Februari 2026 | 10:25 WIB
Karnaval Hingga Subuh di Mojokerto Tuai Protes, Dana Tembus Rp1,6 Miliar

MURIANETWORK.COM - Gelaran Medali Spectacular Carnival (MSC) 2026 di Desa Medali, Kabupaten Mojokerto, menuai perhatian luas setelah viral di media sosial. Acara budaya yang menampilkan puluhan sound system besar (horeg) ini berlangsung jauh melampaui jadwal, dari siang hari hingga menjelang subuh, dan memicu protes dari masyarakat daring. Di balik kemeriahan arak-arakan yang melibatkan 32 kelompok peserta, terungkap estimasi dana yang dikeluarkan mencapai angka fantastis.

Kemeriahan yang Berujung Protes

Karnaval yang digelar pada Sabtu (14/2) sore itu sejatinya merupakan perhelatan budaya yang cukup megah. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tingkat RT, Karang Taruna, pelaku UMKM, hingga Pemerintah Desa, acara ini menampilkan pertunjukan sound horeg berdaya besar dan tarian. Namun, euforia tersebut berangsur berubah menjadi gangguan ketika dentuman musik terus bergema hingga waktu salat subuh, mengusik ketenangan warga sekitar dan memantik gelombang kritik di dunia maya.

Pengakuan Panitia dan Taksiran Dana Fantastis

Menanggapi viralnya peristiwa tersebut, Kepala Desa Medali, Miftahuddin, mengakui bahwa acara memang molor dari rencana awal. Dalam penjelasannya, ia juga membuka perhitungan dana yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan karnaval spektakuler ini.

"Kalau rata-rata Rp 50 juta per peserta, tinggal dikalikan 32 peserta, Rp 1,6 miliar," tutur Miftahuddin.

Angka tersebut tentu saja menyiratkan skala dan ambisi event yang tidak main-main, sekaligus menjadi titik awal pertanyaan publik mengenai efektivitas dan dampak pengelolaannya.

Penyebab Keterlambatan dan Peran Aparat

Lantas, apa yang menyebabkan acara bisa berjalan hingga larut malam? Kapolsek Puri, AKP Sutakat, memberikan klarifikasi dari sisi penegak hukum. Menurutnya, izin keramaian yang diberikan sebenarnya hanya berlaku hingga pukul 23.00 WIB. Namun, realita di lapangan berbicara lain.

"Karena peserta terlalu banyak sehingga molor. Kami sampaikan ke panitia kalau waktunya sudah habis. Dari panitia menyampaikan belum selesai. Akhirnya kami komunikasi dengan panitia dan masyarakat di situ, akhirnya kami lanjutkan sampai sekitar jam 4," jelas Sutakat.

Pernyataan ini mengindikasikan adanya dinamika dan negosiasi di lokasi antara panitia, aparat, dan warga, yang pada akhirnya memutuskan untuk melanjutkan acara demi menghindari gejolak yang tidak diinginkan. Keputusan tersebut, meski diambil dengan pertimbangan tertentu, tetap saja meninggalkan catatan mengenai pengendalian event berskala besar dan kepatuhan terhadap peraturan yang telah ditetapkan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar