Untuk pertama kalinya dalam sejarah pencatatan data kesehatan Inggris, tidak ada satu pun perempuan usia 20-24 tahun yang meninggal akibat kanker serviks sepanjang 2020 hingga 2024. Tanpa program vaksinasi HPV, model statistik memperkirakan sekitar 23 kematian seharusnya terjadi pada kelompok usia tersebut.
Temuan ini berasal dari studi yang dipimpin Profesor Peter Sasieni dari Queen Mary University of London, yang menganalisis data cakupan vaksinasi HPV periode 2008-2018 dan data kematian akibat kanker serviks sejak 2001 hingga 2024. Hasil studi yang dipublikasikan di jurnal The Lancet pada 17 Juni 2026 menunjukkan penurunan kematian terbesar terjadi pada perempuan usia 20-24 dan 25-29 tahun, kelompok yang pertama kali menerima vaksin HPV melalui program nasional yang dimulai tahun 2008.
Peneliti menemukan hubungan dosis-respons yang jelas: semakin tinggi cakupan vaksinasi di suatu kelompok kelahiran, semakin besar penurunan angka kematian. Sebelum mencapai angka nol, kelompok usia 20-24 tahun sudah mencatat penurunan kematian sekitar 80 persen pada periode 2015-2019.
Secara kumulatif, vaksinasi HPV diperkirakan telah mencegah sekitar 200 kematian akibat kanker serviks di Inggris hingga akhir 2024. Studi ini juga memproyeksikan bahwa anak yang divaksin pada usia 12-13 tahun kini memiliki risiko meninggal akibat kanker serviks sebelum usia 30 tahun yang mendekati nol.
"Ini adalah tonggak sejarah yang luar biasa dan kemajuan besar dalam misi kami untuk mengalahkan kanker," kata Michelle Mitchell, kepala eksekutif Cancer Research UK, yang mendanai studi tersebut.
Mengapa HPV Berbahaya?
HPV adalah infeksi menular seksual yang sangat umum. Sebagian besar perempuan dan laki-laki akan terinfeksi virus ini setidaknya sekali seumur hidup. Pada sembilan dari sepuluh kasus, sistem imun membersihkan infeksi dalam waktu dua tahun tanpa gejala berarti. Namun pada sebagian kecil kasus, infeksi tipe risiko tinggi bisa menetap dan merusak DNA sel, memicu pertumbuhan sel tak terkendali yang berujung pada kanker paling sering kanker serviks, tapi juga kanker vagina, vulva, penis, anus, serta meningkatkan risiko kanker kepala-leher, tenggorokan, mulut, kulit, dan paru-paru.
Hampir seluruh kasus kanker serviks di dunia disebabkan oleh HPV. Di Inggris, kanker serviks masih menjadi kanker ke-14 paling umum pada perempuan dengan sekitar 3.300 kasus baru per tahun. Angka kematian nol ini berlaku khusus untuk kelompok usia muda yang telah divaksinasi, bukan berarti kasus baru sudah hilang sepenuhnya.
Bagaimana dengan Indonesia?
Kementerian Kesehatan telah memperluas program imunisasi HPV secara nasional sejak 2023 melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), menyasar anak perempuan kelas 5-6 SD secara gratis setiap Agustus, dengan target cakupan 90 persen pada 2030 sesuai target WHO. Program ini dilaksanakan tahunan dan melibatkan berbagai tingkat pelaksanaan, mulai dari pusat hingga lapangan, dengan koordinasi melalui Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah.
Imunisasi HPV tidak hanya untuk anak yang bersekolah di lembaga formal. Anak-anak yang tidak bersekolah atau putus sekolah juga menjadi sasaran melalui posyandu, puskesmas, dan tempat berkumpul anak-anak. Dalam jangka pendek, program ini diharapkan menurunkan angka kutil kelamin, dan dalam jangka panjang, mengurangi prevalensi kanker serviks.
Melalui program ini, Kementerian Kesehatan berkomitmen menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kanker leher rahim. Dengan vaksin yang terbukti aman dan efektif, serta dukungan semua pihak, imunisasi HPV diharapkan mewujudkan generasi sehat dan bebas dari ancaman kanker leher rahim.
Artikel Terkait
Inggris Waspadai Kongo di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Suhu Tembus Rekor dan Picu Darurat Kesehatan
Inggris Kalahkan Panama 2-0, Pastikan Puncak Klasemen Grup L Piala Dunia 2026
Inggris Incar Kemenangan atas Panama untuk Pastikan Posisi Juara Grup L