Menurut Yusuf, justru konsistensi itulah kunci utamanya.
Dibandingkan robot impor yang harganya selangit dan sistemnya rumit, NeuroAid sengaja dirancang lebih sederhana dan kontekstual dengan kebutuhan lokal. Ini bukan cuma soal teknologi, tapi tentang memahami situasi di sekitarnya.
Ke depan, mimpi kelima pelajar ini besar. Mereka berharap NeuroAid bisa benar-benar dipakai di sekolah-sekolah inklusif maupun rumah sakit di Surabaya. Dan niat baik itu mendapat angin segar dari Dinas Pendidikan setempat.
Pada akhirnya, NeuroAid lebih dari sekadar mesin. Ia adalah bukti nyata bahwa empati dan ilmu pengetahuan, ketika disatukan, bisa melahirkan harapan. Dari sebuah ruang kelas di Surabaya, pesan itu bergaung kuat: bahwa kontribusi berarti bagi masyarakat yang lebih inklusif bisa dimulai dari usia yang sangat muda.
Artikel Terkait
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI
Resident Evil Requiem Catat Rekor, Terjual 6 Juta Kopi dalam Dua Minggu
Pemerintah Larang Anak di Bawah 16 Tahun Buat Akun Media Sosial Mulai 2026