Banjir Semarang 10 Hari: Penyebab, Dampak, dan Solusi Pipa Resapan Horizontal

- Sabtu, 01 November 2025 | 18:20 WIB
Banjir Semarang 10 Hari: Penyebab, Dampak, dan Solusi Pipa Resapan Horizontal
Banjir Semarang 10 Hari: Evaluasi Sistem Manajemen Air dan Solusi Jangka Panjang

Banjir Semarang 10 Hari Belum Surut, Ahli Soroti Sistem Pompa dan Perlunya Solusi Jangka Panjang

Banjir di Kota Semarang, Jawa Tengah, yang belum surut setelah lebih dari sepuluh hari harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem manajemen air di wilayah pesisir utara Jawa (Pantura).

Bencana banjir ini telah menelan empat korban jiwa, tiga di antaranya adalah anak-anak. Sebanyak 22.653 KK atau 47.646 jiwa dilaporkan terdampak oleh genangan air yang berkepanjangan.

Penyebab Banjir Berkepanjangan di Semarang

Edy Susilo, Ahli Hidrologi dari Universitas Semarang (USM), menyatakan bahwa genangan berkepanjangan di kawasan seperti Kaligawe bukan hanya akibat curah hujan tinggi. Masalah utamanya terletak pada sistem pompa yang tidak berfungsi optimal.

"Kalau rob itu sudah rutin dan memang perlu tanggul laut. Namun, untuk banjir akibat hujan seperti sekarang, masalah utamanya ada di pompa," kata Edy.

Dia menjelaskan bahwa di beberapa titik, air seharusnya bisa dibuang langsung ke laut melalui pompa. Namun, karena sebagian pompa mengalami kerusakan, proses pengeringan banjir menjadi sangat tertunda.

Alih Fungsi Lahan dan Lemahnya Implementasi Aturan

Edy memaparkan bahwa penyebab utama banjir di wilayah perkotaan seperti Semarang adalah alih fungsi lahan yang masif. Banyaknya pembangunan infrastruktur dan perumahan telah mengurangi lahan terbuka dan area resapan air secara drastis.

Akibatnya, aliran air permukaan (runoff) meningkat, sementara kemampuan tanah untuk menyerap air justru menurun. Padahal, aturan tentang keseimbangan air melalui konsep zero delta Q sudah ada sejak 2007 dan diperbarui pada 2018.

"Sayangnya, implementasinya di lapangan masih sangat lemah. Banyak pengembang tidak benar-benar membuat fasilitas resapan yang memadai, seperti sumur resapan atau biopori," ujarnya.

Solusi Efektif: Pipa Resapan Horizontal

Edy Susilo mengusulkan penggunaan pipa resapan horizontal sebagai solusi efektif untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah. Menurutnya, teknologi ini lebih efisien dibandingkan sumur resapan konvensional, terutama di kawasan dengan muka air tanah yang dangkal.

"Pipa resapan horizontal ini sudah kami uji dan hasilnya sangat baik. Biayanya relatif murah, perawatannya mudah, dan bisa menjadi solusi jangka menengah maupun panjang untuk masalah banjir dan resapan air," jelas Edy.

Pentingnya Proyek Tanggul Laut dan Perawatan Pompa

Selain solusi resapan, proyek tanggul laut Semarang-Demak juga dinilai crucial untuk mengendalikan banjir rob. Namun, proyek infrastruktur besar ini harus diimbangi dengan perencanaan peresapan air yang baik agar tidak menimbulkan masalah kekurangan air tanah di kemudian hari.

Edy menekankan bahwa setelah pembangunan tanggul laut selesai, sistem pompa yang menjadi kunci utama pengendalian air harus dijaga dengan ketat.

"Pengawasan terhadap pompa harus ketat. Jangan sampai rusak baru diperbaiki setelah banjir datang. Kalau begitu, kita akan terus mengulang persoalan yang sama," pungkasnya.

Dia mengapresiasi langkah darurat pemerintah dengan menurunkan pompa tambahan, namun menegaskan bahwa tanpa perencanaan jangka menengah dan panjang, upaya seperti ini tidak akan cukup untuk mencegah terulangnya banjir di masa depan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar