BAIC Siap Rakit Mobil Listrik T1 di Indonesia, Target Mulai Akhir 2026

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 05:36 WIB
BAIC Siap Rakit Mobil Listrik T1 di Indonesia, Target Mulai Akhir 2026

PT BAIC Indonesia berencana merakit mobil listrik BAIC T1 di dalam negeri dalam waktu dekat. Langkah ini ditempuh untuk memenuhi kewajiban pemerintah terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang akan meningkat mulai 2027.

Chief Operating Officer BAIC Indonesia, Dhani Yahya, mengungkapkan bahwa perakitan ditargetkan berlangsung antara Desember 2026 atau Januari 2027. Hal tersebut disampaikannya di sela-sela acara media test drive BAIC T1 di Bandung, Jawa Barat, Selasa (18/8/2026).

Menurut Dhani, setiap mobil listrik yang diproduksi dan dijual di Indonesia wajib memenuhi nilai TKDN yang terus meningkat pada rentang waktu tertentu. Mulai 2027, nilai minimal TKDN yang harus dipenuhi adalah 60 persen. Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 mengenai Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, khususnya Pasal 8.

Selain untuk memenuhi regulasi, perakitan lokal juga menjadi bagian dari strategi investasi perusahaan. Dhani menyebutkan bahwa investasi untuk membuat satu lini produksi, terutama baterai, cukup besar. Saat ini, komponen baterai yang diimpor dari China hanya selnya saja, sementara casing, wiring harness, dan Battery Management System (BMS) sudah dikerjakan di Indonesia.

Hingga kini, BAIC masih memanfaatkan fasilitas perakitan milik PT Handal Indonesia Motor (HIM). Untuk memenuhi ketentuan industri otomotif nasional, perusahaan sedang menjajaki investasi lini produksi baterai dengan nilai sekitar 28 juta yuan atau setara Rp 65 miliar.

"Juga satu investasi yang kita sedang diskusikan untuk satu line (produksi) baterai itu membutuhkan investasi lebih kurang 28 juta yuan atau sekitar Rp 65 miliar. Saat ini belum ada company di Indonesia, jadi kita lagi bekerja sama rencananya. Kita dengan salah satu perusahaan Gotion, tetapi kan mereka tidak supply secara originnya dari China," jelas Dhani.

Disinggung soal potensi harga BAIC T1 versi CKD (Completely Knocked Down) yang lebih terjangkau, Dhani mengatakan hal itu mungkin terjadi. Sebab, semakin besar nilai TKDN, semakin banyak potensi benefit yang didapat, termasuk pembebasan pajak mewah.

"Harga tentu karena kan kita berharap tadi dengan TKDN akan qualified untuk bisa free luxury tax lebih kurang 15 persen, tentu ini katakanlah akan memberikan kemudahan. Harapan juga bahwa pemerintah lagi cooking something untuk memberi insentif mobil listrik dan kita harapkan juga ada tambahan," katanya.

"Jadi kemarin harga pun yang kita memang sudah disubsidi ya, harapan kita memang di bawah Rp 350 juta untuk T1. Kemudian saat GIIAS kemarin kita dapatkan 139 SPK (Surat Pemesanan Kendaraan) untuk T1 dari total kita 407," pungkas Dhani.

Sebagai informasi, BAIC T1 saat ini ditawarkan dengan harga khusus Rp 373 juta, lebih rendah dari banderol normalnya yang mencapai Rp 393 juta.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags