Biro Investigasi Federal (FBI) menilai kejahatan siber bermodus business email compromise (BEC) bukan sekadar penipuan finansial biasa. Modus kejahatan canggih ini disebut mampu merusak stabilitas ekonomi hingga supremasi hukum.
Hal itu disampaikan Perwakilan FBI untuk Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Son Nguyen, dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, Rabu (19/8/2026). Son mengapresiasi keberhasilan kolaborasi FBI dengan Polri dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam mengungkap kasus kejahatan siber internasional yang merugikan perusahaan AS hingga Rp 6,2 miliar.
"Kompromi email bisnis (Business Email Compromise) jauh lebih berbahaya daripada sekadar penipuan finansial. Ini adalah ancaman canggih yang secara aktif merusak kepercayaan publik," kata Son.
Menurut Son, dampak BEC sangat masif karena menyasar sektor-sektor krusial. Selain kerugian materiil, kejahatan ini mengikis kepercayaan masyarakat terhadap sistem digital.
"Kejahatan ini mengikis stabilitas dalam sektor komersial dan keuangan kita, serta merusak supremasi hukum," ucapnya.
Apresiasi Sinergi Polri-PPATK
Dalam kesempatan itu, Son menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada Polri. Dia mengapresiasi dedikasi Polri dalam menangani kasus penipuan email yang melibatkan perusahaan asal AS.
"Pertemuan ini melambangkan sebuah kemenangan penting dalam upaya kita melawan kejahatan siber internasional. Saya berterima kasih kepada Bareskrim Siber atas kolaborasi yang sangat lancar," ucap Son.
Tak hanya Polri, dia juga memberikan apresiasi khusus kepada PPATK serta Set NCB Interpol Indonesia. Menurutnya, kemampuan PPATK dalam melacak aliran dana yang kompleks menjadi kunci utama pemulihan aset korban.
"Apresiasi khusus kepada PPATK atas keahlian pelacakan keuangan mereka yang sangat berharga. Itu sangat krusial dalam mengikuti jejak aliran uang yang kompleks," ujarnya.
Son mengatakan, karena gerak cepat otoritas Indonesia, sebagian besar dana korban perusahaan AS berhasil diselamatkan.
"Berkat tindakan tegas dari Polri, kami berhasil memulihkan sebagian besar dana yang dicuri dari seorang korban warga Amerika. Bagi korban, ini adalah kesuksesan yang monumental," kata Son.
Dia menegaskan bahwa jarak dan batas negara bukan lagi perlindungan bagi para pelaku kejahatan siber. FBI berkomitmen untuk terus menyelaraskan sumber daya dan intelijen bersama mitra internasional, termasuk Indonesia.
"Kejahatan siber beroperasi tanpa batas, dengan asumsi bahwa jarak akan melindungi mereka dari keadilan. Hari ini membuktikan bahwa keadilan tetap tegak. Tidak ada tempat yang aman bagi mereka yang mengeksploitasi ekonomi keuangan digital kita," imbuh Son.
Artikel Terkait
FBI Apresiasi Polri dan PPATK Ungkap Penipuan Bisnis yang Rugikan Perusahaan AS
Bareskrim Bekuk Dua Tersangka Pembobol Email Perusahaan AS, Kerugian Capai USD 350 Ribu
Pria Bersenjata Ditangkap di Dekat Lokasi Kunjungan Trump
Polri dan FBI Bahas Perburuan Buronan hingga Ancaman Fentanyl