Polda Metro Bongkar Sindikat Meterai Palsu, Ini Cara Membedakannya

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:05 WIB
Polda Metro Bongkar Sindikat Meterai Palsu, Ini Cara Membedakannya

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya berhasil membongkar sindikat produsen dan penjual meterai palsu. Dalam pengungkapan yang melibatkan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan ini, polisi menangkap 16 orang tersangka dan menyita sejumlah alat produksi serta meterai palsu.

Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Dekananto Eko Purwono mengungkapkan, pengungkapan ini berawal dari laporan masyarakat dan laporan polisi yang masuk ke Polda Metro Jaya. Jaringan sindikat ini diketahui beroperasi di beberapa wilayah Indonesia, mulai dari Jakarta, Jawa Barat, hingga Sumatera Utara.

“Pengungkapan ini tentunya berawal informasi dari masyarakat yang juga beberapa laporan polisi yang masuk ke Polda Metro Jaya,” ujar Dekananto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Para tersangka yang ditangkap adalah B, RC, M, TA, RTP, IA, F, H, RH, MIF, SNM, U, FF, NSA, P, dan MO. Mereka memiliki peran berbeda-beda dalam sindikat tersebut. Polisi juga menyita barang bukti berupa alat produksi meterai palsu, termasuk mesin jahit dan mesin poly.

Cara Membedakan Meterai Asli dan Palsu

Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol Victor Dean menjelaskan, meterai asli memiliki hologram yang bisa diterawang, dengan logo burung garuda. Cara pengecekannya mirip seperti memeriksa keaslian uang di Bank Indonesia.

“Jadi untuk meneliti apabila ada masyarakat atau kita mau melihat, sistemnya hampir sama seperti pengecekan uang dari Bank Indonesia. Jadi memang bisa diterawang karena ada tanda atau kode keaslian seperti hologram burung garuda, itu bisa terlihat juga,” kata Victor Dean.

Ia mengimbau masyarakat untuk melakukan pengecekan serupa saat membeli meterai. “Bahan yang ada di depan ini memang tidak ada hologramnya. Bagi masyarakat kami imbau apabila mau membeli meterai, bisa dilakukan tindakan yang sama seperti pengecekan uang secara kasat mata,” tambahnya.

Sementara itu, Dirjen Pajak Kementerian Keuangan Bimo Wijayanto menambahkan, meterai asli memiliki cetakan yang berubah warna ketika dilihat dari sudut tertentu, serta lubang-lubang dengan bentuk bulat, oval, dan bintang. Selain itu, angka 10.000 pada meterai asli terasa kasar saat diraba.

“Kemudian kalau diraba di permukaan meterai asli akan terasa kasar pada bagian angka nominal 10.000 dan pada tulisan Meterai Tempel. Kemudian ketika digoyang di sudut tertentu akan berubah dari warna magenta ke warna hijau ketika sudut pandang kita digeser. Tapi secara mudah juga langsung saja diketahui ketika harga itu kurang dari Rp10 ribu,” jelas Bimo.

Bimo juga mengingatkan warga untuk waspada jika menemukan meterai yang dijual di bawah harga Rp10 ribu, karena kemungkinan besar itu palsu.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags