Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 995 gempa susulan terjadi hingga hari kedua pascagempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, dari jumlah tersebut, hanya 46 kali yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa gempa susulan tersebut merupakan bagian dari proses alamiah untuk mengembalikan kestabilan struktur patahan bumi. "Fenomena alam ini memang harus dilalui, sehingga diharapkan energi yang lepas bisa segera melunak dan gempa susulan tidak lagi signifikan," ujarnya dalam keterangan daring, Minggu (16/8/2026).
Meski demikian, Abdul tetap mengimbau warga yang masih bertahan di pengungsian untuk waspada. "Kami imbau saudara-saudara kami untuk melakukan pengecekan rumah masing-masing, apakah ada kerusakan struktur yang retak, sudut-sudut rumah yang lepas, atau dudukan kuda-kuda atap yang tidak pada tempatnya," tuturnya.
Tim di lapangan, termasuk para pejabat negara dan menteri yang telah berada di tujuh kabupaten/kota terdampak, akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Koordinasi ini bertujuan memastikan data pengungsi, baik yang terpusat maupun mandiri, benar-benar menggambarkan kondisi riil di lapangan.
Berdasarkan laporan visual, masih banyak warga yang memilih bertahan di pengungsian sejak hari pertama gempa. Kondisi ini kemungkinan besar dipicu oleh kerusakan parah pada rumah mereka, yang juga berpotensi terdampak tsunami susulan.
Artikel Terkait
Menteri dan Pejabat Pusat Peringati HUT ke-81 RI di Lokasi Gempa NTT
Gempa M 7,7 di NTT Tewaskan 53 Orang, 154 Rumah Rusak Berat
Kris Dayanti Terenyuh Lihat Ibu dan Anak Korban Gempa NTT Meninggal Berpelukan
Gempa Magnitudo 7,7 di NTT Rusak Lebih dari 2.000 Bangunan