Setelah vakum sejak 2020, Perpustakaan Nyi Ageng Serang di Jakarta Selatan kembali melayani masyarakat mulai 8 Juli 2026. Perpustakaan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini hadir dengan wajah baru dan jam operasional yang diperpanjang hingga pukul 22.00 WIB.
Dengan fasilitas yang lebih lengkap, perpustakaan ini kini menjadi ruang publik yang dapat dimanfaatkan warga untuk membaca, belajar, bekerja, hingga mengikuti berbagai kegiatan literasi. Pengunjung dapat mengakses koleksi buku cetak dan layanan perpustakaan digital.
Perpustakaan buka setiap hari, Senin hingga Minggu, pukul 09.00–22.00 WIB. Jam operasional yang lebih panjang diharapkan memberi keleluasaan bagi masyarakat, termasuk setelah jam kerja atau sekolah. Sebelum berkunjung, pengunjung wajib registrasi sebagai anggota melalui laman resmi Perpustakaan Jakarta.
Fasilitas dan Akses
Bangunan yang telah direvitalisasi ini menyediakan berbagai ruang, antara lain ruang baca koleksi umum, ruang anak, ruang multimedia, ruang diskusi, ruang komputer, area kerja bersama, auditorium, musala, dan area terbuka. Selain itu, perpustakaan juga menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan seperti bedah buku, lokakarya, kelas kreatif, pemutaran film, dan diskusi komunitas.
Lokasinya di Lantai 7 dan 8 Gedung Nyi Ageng Serang, Jalan H.R. Rasuna Said Kav. C22, Kuningan, Jakarta Selatan, mudah dijangkau dengan transportasi umum. Pengunjung bisa menggunakan LRT Jabodebek (turun di Stasiun Rasuna Said), TransJakarta (Halte Rasuna Said), KRL Commuter Line (turun di Stasiun Sudirman lalu lanjut LRT atau TransJakarta), atau MRT Jakarta (turun di Stasiun Setiabudi lalu lanjut TransJakarta atau transportasi online).
Siapa Nyi Ageng Serang?
Nama perpustakaan ini diambil dari pahlawan nasional Nyi Ageng Serang, pejuang perempuan dalam Perang Jawa 1825–1830. Bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi, ia merupakan keturunan Sunan Kalijaga dan nenek buyut Ki Hajar Dewantara. Dalam Perang Jawa, ia menjadi pemimpin dan penasihat strategi Pangeran Diponegoro. Salah satu strateginya yang terkenal adalah memanfaatkan daun lumbu atau talas sebagai kamuflase pasukan. Atas jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, dan namanya diabadikan menjadi berbagai fasilitas publik, termasuk gedung dan perpustakaan ini.
Artikel Terkait
Kronologi Sopir Alphard Hantam Motor Pakai Batu Terungkap
Dua Kebakaran Melanda Jakarta Selatan, Damkar Kerahkan 19 Unit Mobil
Mantan JAM Pidsus Febrie Adriansyah Ajukan Praperadilan Kedua, Gugat Penyidikan Hingga Penahanan
Sopir Alphard Pukul Motor Ojol di Jaksel, Kasus Berakhir Damai