Ketidakpercayaan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto kian menguat, salah satunya dipicu oleh sikapnya yang dianggap tidak tegas dalam kasus ijazah palsu yang membelit mantan Presiden Joko Widodo. Jika survei dilakukan, variable pertanyaan kemungkinan besar akan berkisar pada kegagalan Prabowo bersikap terhadap Jokowi, yang merupakan guru politik sekaligus kompanyon yang membantunya naik ke kursi kepresidenan.
Secara politis, pilihan Prabowo memang terbatas. Bagi presiden, opsi yang aman meski pragmatis adalah menganggap persoalan ijazah palsu Jokowi sudah usang. Selain konteks waktu yang telah lewat, Prabowo berpegang pada putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, mulai dari kepolisian hingga Mahkamah Agung. Namun, di balik itu, kasus ini menyangkut kepentingan banyak pihak yang saling beririsan, mulai dari partai koalisi, tokoh elit, hingga institusi negara seperti UGM, KPU, Bawaslu, DPR, Mendagri, bahkan melibatkan para oligarki dan pasar Pramuka yang disebut-sebut ikut dalam kekonyolan ini.
Pilihan Sulit Prabowo
Publik bertanya, apa sikap Prabowo dalam kasus ini? Apakah ia akan membiarkan ketidakpercayaan terus menggerogoti pemerintahannya?
Beberapa waktu lalu, Dr. Tifa, yang ditahan terkait kasus ini, mengucapkan terima kasih kepada Prabowo setelah penangguhan penahanannya disetujui Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Pernyataan itu diamini oleh Roy Suryo. Banyak pihak kaget, terutama publik yang sudah apriori terhadap Prabowo. Namun, penulis menduga sejak awal bahwa Prabowo akan mengambil keputusan untuk membebaskan Dr. Tifa dan Roy Suryo, meskipun Jokowi dan kubu pendukungnya kecewa.
Sehari sebelum pernyataan Dr. Tifa, Didit Prabowo bertemu Jokowi di Solo. Pertemuan itu bukan kebetulan; ada pesan penting yang disampaikan melalui diplomasi adat. Prabowo harus bersikap cerdas agar situasi politik tidak meluas menjadi eskalasi yang merongrong kekuasaannya. Ia melihat gelombang demonstrasi mahasiswa yang telah berhari-hari turun ke jalan sebagai sesuatu yang by design oleh proxy-proxy dalam dan luar negeri, yang terusik oleh kebijakannya yang pro-negara dalam melindungi sumber daya alam dari bancakan oligarki.
Sebagai mantan militer, Prabowo sangat memahami definisi ancaman dalam arti luas. Ancaman politik yang merongrong kekuasaannya bisa berkembang menjadi eskalasi yang berakibat robohnya kursi kepresidenan. Ia sadar bahwa dalam politik tidak ada pertemanan abadi selain kepentingan, dan itu masuk dalam kategori ancaman bagi dirinya.
Prabowo tidak hanya ingin menyelamatkan sukses program visi-misi pemerintahannya, tetapi juga memikirkan kontestasi pemilu 2029. Hitungan politik dalam dan luar negeri telah dipertimbangkan dengan bijak. Masalah yang dihadapinya adalah persinggungan diametral antara visi-misi paradoks ke-Indonesiaan dengan sikap paradoksnya dalam mengelola lingkaran kekuasaan yang justru menjadi beban bagi pemerintahannya.
Misi Paradoks
Lantas, bagaimana Prabowo menyelesaikan misi paradoks dalam kasus ijazah palsu Jokowi? Di satu sisi, ia harus menyelamatkan Jokowi dan kubu pendukungnya, tetapi di sisi lain, ia harus terlihat elegan dan cerdas di hadapan barisan akal sehat yang mendukung Dr. Tifa dan Roy Suryo sebagai korban kriminalisasi penguasa sejak era Jokowi, yang berlanjut di era Prabowo. Kasus serupa telah menimpa Bambang Tri dan Gus Nur.
Prabowo telah dengan cerdas memberi framework dan framing hukum atas masalah yang lahir dari dendam politik dan struktur kekuasaan yang tidak adil. Kasus Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto adalah contoh dialektika Prabowo terhadap proses hukum miring. Abolisi yang diberikan kepada Tom Lembong dan amnesti kepada Hasto telah membuat semua pihak yang bertikai merasa puas.
Apakah Prabowo akan melakukan tindakan serupa terhadap kasus ijazah palsu Jokowi, khususnya kepada Dr. Tifa dan Roy Suryo? Publik menunggu. Semoga kekhawatiran mantan Wakapolri Oegroseno tidak terbukti, bahwa nasib Roy dan Tifa akan sama dengan Bambang Tri dan Gus Nur. Kita berharap Prabowo konsisten tampil cerdas, tidak kalah oleh ambisi biang kerok ijazah palsu.
Artikel Terkait
Prabowo Anugerahkan Bintang RI Adipurna kepada PM India Narendra Modi
Ray Rangkuti: Safari Politik Jokowi Buktikan Ia Bukan Negarawan
Prabowo Dorong Batam Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Prabowo Anugerahkan Bintang Republik Indonesia Adipurna kepada PM India Narendra Modi