“Dulu kalau ibu masak opor, pasti semangkuk diantar ke rumah sebelah.” Kalimat itu pernah diucapkan nenek saat kami duduk di teras rumah. Beliau bercerita tentang masa ketika hampir semua tetangga saling mengenal. Anak-anak bebas bermain dari sore sampai magrib, orang tua saling menitipkan rumah saat bepergian, bahkan kabar duka atau kebahagiaan selalu cepat menyebar tanpa perlu diumumkan di media sosial.
Kini, suasana itu berubah drastis. Di banyak lingkungan perumahan, pagar-pagar tinggi menjulang. Tetangga keluar rumah hanya untuk bekerja atau berbelanja. Saat berpapasan, tidak sedikit yang memilih menunduk sambil melihat ponsel daripada menyapa. Ironisnya, kita bisa hafal kehidupan content creator yang tinggal ratusan kilometer dari rumah, tetapi tidak tahu nama tetangga yang setiap hari parkir kendaraan di sebelah rumah kita.
Fenomena ini mungkin terdengar sepele. Namun, jika dibiarkan terus-menerus, kita menghadapi perubahan sosial yang serius: hubungan antarwarga semakin renggang, rasa memiliki terhadap lingkungan memudar, dan kepedulian terhadap sesama berkurang.
Menurut saya, inilah persoalan yang jarang dikaitkan dengan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Selama ini, IPS sering dipahami hanya sebagai pelajaran tentang sejarah, ekonomi, geografi, atau sosiologi yang harus dihafalkan demi nilai ujian. Padahal, tujuan yang lebih besar dari IPS adalah membentuk manusia yang mampu hidup bersama di tengah masyarakat yang terus berubah.
Interaksi Digital Menggantikan Pertemuan Langsung
Ironisnya, kita hidup di era ketika komunikasi semakin mudah, tetapi hubungan sosial justru semakin rumit. Grup pesan warga memang ramai setiap hari, tetapi sering kali hanya berisi pengumuman atau keluhan. Ketika ada kegiatan kerja bakti, jumlah orang yang hadir jauh lebih sedikit dibanding jumlah anggota grup. Interaksi digital perlahan menggantikan pertemuan yang dulu menjadi ruang untuk membangun rasa percaya.
Jika kondisi ini terus dianggap biasa, generasi muda akan tumbuh dengan pemahaman bahwa bertetangga hanyalah soal tinggal berdekatan, bukan tentang membangun hubungan sosial. Padahal, masyarakat Indonesia sejak lama dikenal karena budaya gotong royong, musyawarah, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai itu tidak akan bertahan jika hanya diceritakan dalam buku pelajaran tanpa pernah dipraktikkan.
Di sinilah Pendidikan IPS seharusnya hadir dengan cara yang lebih relevan. Siswa tidak cukup hanya mempelajari definisi interaksi sosial atau perubahan sosial di dalam kelas. Mereka juga perlu diajak mengamati kehidupan di lingkungan sekitar. Mengapa kerja bakti semakin sepi? Mengapa warga lebih aktif berkomentar di media sosial daripada berdiskusi langsung? Mengapa konflik kecil di lingkungan sering membesar hanya karena kesalahpahaman di dunia digital?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan membuat IPS terasa hidup. Siswa belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari realitas yang mereka hadapi setiap hari. Dengan begitu, mereka memahami bahwa ilmu sosial bukan sekadar teori, melainkan alat untuk membaca dan menyelesaikan persoalan di masyarakat.
Menurut saya, sekolah juga dapat menjadikan lingkungan sekitar sebagai ruang belajar. Misalnya, siswa diberi tugas mewawancarai tetangga yang sudah lama tinggal di wilayahnya untuk mengetahui bagaimana kehidupan sosial berubah dari waktu ke waktu. Dari sana, mereka tidak hanya belajar teknik wawancara atau mengumpulkan data, tetapi juga belajar mendengarkan, menghargai pengalaman orang lain, dan memahami perubahan sosial secara langsung. Cara belajar seperti ini jauh lebih membekas dibanding sekadar menghafal materi menjelang ujian. Sebab, pengalaman berinteraksi akan melatih empati, kemampuan berkomunikasi, dan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.
Pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan jalan, gedung, atau teknologi yang dimiliki. Bangsa yang kuat juga membutuhkan masyarakat yang mampu hidup berdampingan, saling percaya, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Semua itu tidak tumbuh begitu saja, tetapi harus dilatih sejak dini melalui pendidikan.
Karena itu, sudah saatnya kita berhenti menganggap IPS sebagai mata pelajaran pelengkap. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, IPS justru memiliki peran yang semakin penting. Bukan sekadar mengajarkan siapa tokoh sejarah atau bagaimana proses ekonomi berlangsung, tetapi mengajarkan cara menjadi manusia yang mampu hidup bersama orang lain. Sebab, ketika suatu hari kita tidak lagi mengenal orang yang tinggal tepat di sebelah rumah, mungkin yang sedang hilang bukan hanya sapaan. Bisa jadi, yang perlahan hilang adalah makna kehidupan bermasyarakat yang selama ini menjadi kekuatan bangsa Indonesia.
Artikel Terkait
Ketika Sejarah Berhenti Mengetuk Pintu Kampus
Ketika Sejarah Mencari Aktor Baru: Tantangan Mahasiswa di Tengah Perubahan Zaman
Saat Sejarah Mencari Aktor Baru: Apakah Mahasiswa Masih Layak Memegang Estafet Perubahan?
Sejarah Tak Pernah Menunggu: Apakah Mahasiswa Masih Menjadi Aktor Perubahan?